"Tato bisa dibilang 'permanen' bukan karena tintanya melekat selamanya di kulit, melainkan karena ada siklus peradangan kronis yang terus berulang, melibatkan sel-sel imun di bawah kulit," tulis dr. Adam, dikutip Sabtu (25/7/2026).
Dokter yang aktif mengulas riset kesehatan ilmiah ini menerangkan, saat jarum tato menusuk dan melukai lapisan kulit, tubuh secara otomatis membaca proses tersebut sebagai cedera sekaligus masuknya benda asing. Kondisi ini merangsang respons sistem kekebalan tubuh.
"Sel-sel imun seperti neutrofil, makrofag, dan sel dendritik pun langsung bergerak untuk 'menangkap' partikel pigmen tato yang masuk," imbuhnya.
Kunci utama mengapa tinta tato bertahan lama terletak pada sel imun yang dinamakan makrofag. Sel ini bekerja dengan pola yang berulang, yakni capture, release, recapture (menangkap, melepaskan, dan menangkap kembali).
Ketika pigmen tinta masuk, makrofag akan menelannya karena menganggapnya sebagai benda asing. Namun, partikel pigmen tersebut terlalu besar dan sulit untuk dicerna secara alami oleh sel imun.