Kebaya ini mengakar kuat dalam budaya masyarakat Melayu, khususnya di Kepulauan Riau, Sumatera, dan wilayah Semenanjung Malaya. Kebaya ini menjadi salah satu pakaian adat resmi perempuan Melayu.
Kebaya Labuh memiliki potongan yang lebih longgar dan sangat panjang, biasanya menjuntai hingga menutupi lutut (mirip baju kurung). Bagian depannya terbuka dan disatukan menggunakan tiga buah bros bertingkat yang disebut kerongsang.
Berasal dari tanah Pasundan, Jawa Barat. Sekilas, kebaya ini mirip dengan kebaya Jawa pada umumnya, namun punya detail yang disesuaikan dengan selera dan budaya perempuan Sunda.
Kebaya ini punya ciri khas, biasanya berbentuk huruf U yang agak lebar atau segilima, didesain untuk menonjolkan perhiasan kalung yang dipakai penggunanya. Potongannya sangat pas memeluk lekuk tubuh (membentuk siluet), dan sering kali bagian bawah belakangnya didesain lebih panjang menutupi panggul.
Kebaya ini berasal dari lingkungan Keraton Yogyakarta. Nama "Janggan" diyakini berasal dari kata jangga, yang dalam bahasa Jawa krama inggil berarti leher. Pada tradisi keraton, kebaya ini merupakan pakaian kebesaran sekaligus seragam resmi bagi para Abdi Dalem Keparak (abdi dalem perempuan) dan kerabat perempuan keraton saat menjalankan tugas atau menghadiri upacara penting.