JAKARTA – Perselingkuhan tidak hanya berdampak pada hubungan dan kondisi emosional seseorang, tetapi juga disebut dapat memengaruhi kesehatan jantung. Menurut dokter spesialis jantung, stres berkepanjangan akibat menjalani hubungan secara diam-diam dapat meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular, termasuk serangan jantung.
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, dr. Bobby Arfhan Anwar, dalam unggahan di akun Instagram pribadinya mengatakan bahwa seseorang yang kerap berselingkuh berpotensi memiliki risiko serangan jantung lebih tinggi dibandingkan mereka yang setia kepada pasangannya.
"Mau ngasih tahu aja, orang yang hobi selingkuh, senangnya bikin affair dengan pasangan nonhalalnya, itu berisiko mengalami serangan jantung lebih tinggi dibanding yang setia sama pasangan halalnya," tulis dr. Bobby, dikutip Selasa (21/7/2026).
Ia menjelaskan, kondisi tersebut berkaitan dengan stres kronis yang dialami pelaku perselingkuhan. Rasa takut ketahuan, kecemasan, perasaan bersalah, hingga kebiasaan terus-menerus berbohong dapat memicu peningkatan hormon stres, seperti adrenalin dan kortisol.
"Akibatnya, tekanan darah dapat meningkat, denyut jantung menjadi lebih cepat, peradangan dalam tubuh meningkat, kualitas tidur memburuk, dan risiko gangguan irama jantung ikut meningkat," jelasnya.
Risiko tersebut dinilai semakin besar apabila perselingkuhan sudah melibatkan hubungan seksual. Menurut dr. Bobby, aktivitas seksual dalam kondisi emosi yang penuh tekanan dapat membuat denyut jantung dan tekanan darah meningkat lebih tinggi.
"Pada orang yang sudah memiliki penyakit jantung atau penyempitan pembuluh darah koroner, aktivitas seksual yang dilakukan dalam kondisi emosi yang sangat tegang misalnya karena takut ketahuan dapat menjadi pemicu serangan jantung, meskipun kejadiannya relatif jarang," tuturnya.
Karena itu, dr. Bobby mengimbau masyarakat untuk membangun hubungan yang sehat, jujur, dan terbuka dengan pasangan. Menurutnya, hubungan yang harmonis umumnya dikaitkan dengan tingkat stres yang lebih rendah, kesehatan mental yang lebih baik, serta risiko penyakit kardiovaskular yang lebih rendah.
"Menjaga kesetiaan bukan hanya soal nilai moral dan agama, tetapi juga dapat membantu menjaga ketenangan pikiran, kualitas hidup, dan kesehatan jantung. Jantung yang sehat juga membutuhkan hati yang tenang," pungkasnya.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)