Depresi pada Anak, Begini Cara Mengenalinya!

Agustina Wulandari , Jurnalis
Senin 20 Juli 2026 10:04 WIB
Ilustrasi depresi pada anak. (Foto: dok Magnific)
Share :

JAKARTA - Setiap anak pasti pernah mengalami pasang surut emosi. Kadang mereka terlihat sangat ceria, tetapi ada kalanya mereka sedih, murung, atau jengkel. Ini adalah hal yang wajar. Namun, kalau perasaan ini berlangsung lebih dari dua minggu, bisa jadi itu adalah tanda depresi.

Berbeda dengan sekadar merasa sedih karena nilai ujian yang jelek atau habis bertengkar dengan teman, depresi adalah gangguan suasana hati yang serius. Kondisi ini bisa mengganggu aktivitas harian, jam tidur, nafsu makan, hingga hubungan anak dengan keluarga dan teman-temannya.

Apa Saja Jenis Depresi pada Anak? 

Melansir Cleveland Clinic, depresi tidak hanya memiliki satu wajah. Ada beberapa jenis depresi yang bisa dialami oleh anak-anak dan remaja, yaitu:

  • Gangguan Depresi Mayor (Klinis): Ini yang paling umum dikenal. Anak merasa sangat sedih, mudah marah, putus asa, hingga menjauh dari orang-orang terdekatnya.
  • Gangguan Disforik Pramenstruasi (PMDD): Kondisi ini bisa dialami anak perempuan menjelang masa menstruasinya. Gejalanya meliputi kecemasan, mudah menangis, dan rasa nyeri di tubuh yang muncul sekitar seminggu sebelum haid.
  • Gangguan Afektif Musiman (SAD): Gejalanya mirip depresi mayor, tetapi muncul pada musim atau cuaca tertentu, misalnya sering terjadi saat musim dingin yang gelap di beberapa negara.
  • Disruptive Mood Dysregulation Disorder: Anak sering meledak marah atau tantrum yang tidak sesuai dengan usianya. Kondisi ini biasanya didiagnosis pada anak berusia 6 tahun ke atas.
  • Distimia: Depresi jenis ini gejalanya lebih ringan, tetapi berlangsung dalam waktu yang sangat lama, bahkan bisa bertahun-tahun sehingga sering dikira sebagai bagian dari kepribadian anak.

Tanda dan Gejala yang Harus Diwaspadai 

Depresi pada anak kadang terlihat berbeda dibandingkan orang dewasa. Sebagai orang tua, Moms perlu waspada jika anak menunjukkan tanda-tanda berikut:

  • Perubahan suasana hati (lebih sering sedih atau mudah marah).
  • Kehilangan minat pada hobi, olahraga, atau sekolah yang dulunya mereka sukai.
  • Sering merasa lelah atau energi terlihat menurun.
  • Sering berbicara negatif tentang diri sendiri, misalnya, merasa tidak berharga atau tidak berguna.
  • Perubahan pola makan (makan jauh lebih banyak atau justru tidak mau makan).
  • Kesulitan tidur atau malah tidur terlalu lama.

Kenapa Anak Bisa Mengalami Depresi? 

Para ahli belum mengetahui secara pasti apa penyebab utama depresi pada anak. Namun, kombinasi antara faktor genetik dan lingkungan sangat berpengaruh. Beberapa pemicunya meliputi:

  • Riwayat keluarga (ada anggota keluarga yang juga mengalami depresi).
  • Mengalami kejadian yang memicu stres tinggi, seperti perceraian orang tua, pindah rumah, atau kehilangan orang terdekat.
  • Pengalaman traumatis atau menjadi korban perundungan (bullying).
  • Masalah kesehatan fisik, penyakit kronis (seperti diabetes atau epilepsi), hingga cedera otak.

Bagaimana Cara Mengatasinya? 

Jika anak menunjukkan gejala depresi selama lebih dari dua minggu, segera konsultasikan ke dokter anak. Dokter biasanya akan memeriksa dulu apakah ada penyakit fisik, seperti kurang vitamin D, masalah tiroid, atau anemia yang menyebabkan perubahan suasana hati tersebut.

Jika dipastikan karena masalah kesehatan mental, dokter akan merujuk anak ke psikolog atau psikiater. Penanganan utamanya meliputi:

  • Terapi Wicara (Cognitive Behavioral Therapy): Terapi ini membantu anak belajar berpikir lebih positif, mengelola kecemasan, dan mencari cara sehat untuk meluapkan emosi.
  • Obat-obatan: Terkadang, obat antidepresan (seperti SSRI) juga diperlukan untuk membantu menyeimbangkan zat kimia di otak agar anak merasa lebih baik. Keduanya akan bekerja maksimal jika dilakukan secara bersamaan.

Apa yang Bisa Dilakukan Orang Tua? 

Moms mungkin tidak selalu bisa mencegah anak mengalami depresi, apalagi jika ada faktor genetik di baliknya. Namun, dukungan orang tua adalah kunci utama dalam proses pemulihannya.

Cobalah untuk selalu mendengarkan keluh kesah mereka tanpa menghakimi. Ciptakan lingkungan rumah yang aman, pastikan anak tidur cukup, makan makanan bergizi, dan rutin berolahraga. Moms juga bisa membantu dengan mencatat perubahan suasana hati, jam tidur, serta nafsu makannya untuk dilaporkan kepada dokter saat sesi konsultasi.

Satu hal yang penting untuk diingat: depresi pada anak bukanlah salah siapa-siapa. Jangan merasa bersalah atau gagal sebagai orang tua. 

Kondisi ini cukup umum dan yang terpenting, depresi bisa diobati. Jangan ragu untuk segera mencari bantuan profesional, terutama jika anak mulai menunjukkan tanda-tanda ingin menyakiti diri sendiri.

(Agustina Wulandari )

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Women lainnya