Selain berat badan turun, kedua kelompok diet juga melaporkan peningkatan kesejahteraan psikologis serta berkurangnya gejala depresi.
Selain mengukur perubahan berat badan, peneliti juga menilai aspek psikologis selama menjalani diet, seperti rasa lapar, keinginan makan berlebihan, suasana hati, kualitas tidur, hingga besarnya usaha mental yang dibutuhkan untuk mengontrol pola makan.
Hasilnya menunjukkan bahwa peserta yang menjalani defisit kalori harian harus mengeluarkan usaha lebih besar untuk terus membatasi makanan, menghitung kalori, dan mengendalikan keinginan makan.
Di sisi lain, kelompok puasa intermiten berhasil menurunkan berat badan dalam jumlah yang sama tanpa melaporkan peningkatan beban mental untuk mengontrol makanan setiap saat.
Menurut penulis penelitian, Profesor Leonie Heilbronn, puasa intermiten mungkin membantu sebagian orang menurunkan berat badan tanpa harus terus-menerus memikirkan pembatasan makanan.
Meski terlihat menjanjikan, peneliti menegaskan bahwa puasa intermiten bukan pilihan yang tepat bagi semua orang.