JAKARTA – Usulan agar perempuan hanya mengalami menstruasi empat kali dalam setahun memicu perdebatan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Gagasan tersebut dinilai berpotensi memperpanjang masa subur perempuan, namun di sisi lain dikhawatirkan dapat menimbulkan dampak terhadap kesehatan.
Wacana tersebut pertama kali disampaikan oleh ahli biologi asal Tiongkok, Hongmei Wang. Menurutnya, frekuensi menstruasi yang lebih jarang berpotensi membuat masa reproduksi perempuan berlangsung lebih lama.
Menanggapi hal itu, dokter sekaligus edukator kesehatan dr. Adam Prabata menjelaskan bahwa secara teori, menstruasi yang hanya terjadi setiap tiga bulan sekali memang dapat membantu menjaga cadangan sel telur di ovarium sehingga berpotensi menunda menopause.
"Membuat wanita menstruasi empat kali dalam setahun, atau setiap tiga bulan sekali, memang secara teori bisa memperpanjang masa subur wanita karena cadangan sel telur di ovarium bisa lebih lama awet, bahkan bisa menunda menopause," jelas dr. Adam.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa konsep tersebut juga memiliki potensi efek samping. Menurutnya, hormon estrogen yang diproduksi selama siklus menstruasi normal memiliki peran penting dalam menjaga fungsi berbagai organ tubuh.