Ilustrasi penyebab autisme. (Foto: dok Freepik)
JAKARTA - Gangguan Spektrum Autisme atau Autism Spectrum Disorder (ASD) berkaitan dengan perkembangan otak yang mempengaruhi cara seseorang memandang dan bersosialisasi dengan orang lain. Hal ini sering kali memicu tantangan dalam hal komunikasi dan interaksi sosial.
Melansir Mayo Clinic, orang dengan autisme juga cenderung memiliki pola perilaku yang terbatas dan dilakukan berulang-ulang. Kata "spektrum" sendiri dipakai karena rentang gejala dan tingkat keparahannya sangat luas, tiap orang bisa mengalami kondisi yang sangat berbeda.
Ini Penyebab Autisme
Sampai sekarang, tidak ada satu penyebab pasti. Karena kondisinya sangat kompleks, autisme kemungkinan dipengaruhi oleh banyak faktor, terutama kombinasi antara genetik dan lingkungan.
- Genetik: Beberapa gen diduga kuat berperan dalam autisme. Pada beberapa anak, autisme berkaitan dengan kondisi genetik bawaan (seperti Sindrom Rett atau Fragile X). Pada kasus lain, mutasi genetik (perubahan gen) bisa meningkatkan risikonya, atau memengaruhi cara otak berkembang dan berkomunikasi antar sel.
- Faktor Lingkungan: Para peneliti saat ini juga sedang mendalami apakah infeksi virus, penggunaan obat tertentu selama hamil, komplikasi kehamilan, hingga polusi udara punya andil dalam memicu autisme.
Faktor Mempengaruhi Risiko Autisme
Meski bisa terjadi pada siapa saja, ada beberapa hal yang bisa meningkatkan risiko anak mengalami autisme:
- Jenis Kelamin: Anak laki-laki sekitar empat kali lebih berisiko didiagnosis autisme dibanding anak perempuan.
- Riwayat Keluarga: Jika sudah ada satu anak di keluarga yang memiliki autisme, risiko anak berikutnya untuk mengalami kondisi serupa akan lebih tinggi.
- Kelahiran Prematur: Bayi yang lahir sangat dini (sebelum usia kandungan 26 minggu) memiliki risiko lebih tinggi.
- Usia Orang Tua: Ada indikasi hubungan antara usia orang tua yang lebih tua saat memiliki anak dengan risiko autisme, walau hal ini masih butuh penelitian lebih lanjut.
- Kondisi Medis Lain: Anak dengan masalah kesehatan tertentu (seperti Sindrom Fragile X atau Tuberous sclerosis) punya risiko lebih besar untuk menunjukkan gejala autisme.
Memahami autisme bukan sekadar soal tahu gejalanya, tapi tentang bagaimana bisa lebih peduli, memberikan dukungan sedini mungkin, dan menciptakan lingkungan yang inklusif untuk mereka.
(Agustina Wulandari )