JAKARTA - Setiap tahun, jutaan orang selalu meramaikan Pekan Raya Jakarta (PRJ). Ada yang datang untuk berburu diskon, mencicipi aneka kuliner, menonton konser, atau sekadar bersantai bersama keluarga.
Namun, tahukah kamu bahwa di balik semua kemeriahan itu, PRJ sebenarnya berawal dari sebuah ide sederhana pada tahun 1968 untuk membangkitkan perekonomian Indonesia?
Pada awalnya, PRJ adalah sebuah pameran dagang yang bertujuan mempertemukan para pengusaha dengan masyarakat. Ide ini dicetuskan oleh Syamsuddin Mangan atau akrab disapa Haji Mangan, yang saat itu menjabat sebagai Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) DKI Jakarta.
Ia mengusulkan kepada Gubernur Ali Sadikin agar Jakarta memiliki pameran dagang berskala besar untuk mempromosikan produk lokal sekaligus memutar roda ekonomi. Usulan tersebut disambut hangat, dan lahirlah acara yang pada saat itu diberi nama Djakarta Fair.
Berbeda dengan sekarang, PRJ edisi perdana diselenggarakan di kawasan Monumen Nasional (Monas) pada 5 Juni hingga 20 Juli 1968. Presiden Soeharto membuka acara ini secara langsung dengan prosesi pelepasan burung merpati. Karena konsepnya yang seru, memadukan pameran dagang dan hiburan rakyat, PRJ sukses besar dan langsung menjadi agenda wajib setiap perayaan hari ulang tahun Kota Jakarta.
Mungkin kamu pernah bertanya-tanya, mengapa namanya "pekan" padahal acaranya berlangsung selama sebulan penuh? Ternyata, dalam akar bahasa Melayu, kata "pekan" itu memiliki arti pasar atau tempat berdagang. Jadi, Pekan Raya Jakarta secara harfiah bermakna pasar raya yang besar, bukan acara yang hanya berdurasi tujuh hari atau satu minggu.
Setelah lebih dari 20 tahun meramaikan Monas, jumlah peserta pameran dan pengunjung terus membludak sehingga lokasinya terasa semakin sempit. Akhirnya, pada 1992, lokasi penyelenggaraan PRJ dipindahkan ke Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran, sebuah kawasan bekas bandara yang disulap menjadi pusat pameran megah.
Kemudian, sekitar 2010, pihak penyelenggara mulai gencar mempromosikan nama merek "Jakarta Fair". Langkah ini diambil agar acara tersebut terdengar lebih mendunia dan mudah dikenali oleh wisatawan mancanegara. Walaupun begitu, bagi masyarakat luas, singkatan PRJ tentu tetap menjadi sebutan yang paling melekat di hati.
Meski wajah PRJ kini semakin modern dan sangat identik dengan wahana hiburan serta diskon besar-besaran, misi utamanya sejak tahun 1968 tidak pernah pudar. Acara ini tetap menjadi panggung utama untuk produk-produk nasional, mulai dari otomotif, elektronik, busana, hingga UMKM.
Kini, dengan usianya yang sudah lebih dari lima dekade, PRJ berhasil memantapkan posisinya sebagai salah satu pameran multiproduk terbesar di Asia Tenggara yang terus setia menggerakkan ekonomi nasional.
(Agustina Wulandari )