JAKARTA - Pernahkah kamu menyadari seberapa banyak plastik yang digunakan setiap hari? Dilansir dari Healthline, faktanya, sekitar 60 persen dari seluruh plastik yang diproduksi di dunia ternyata digunakan untuk kemasan makanan.
Plastik yang tak bisa terurai ini tak hanya menumpuk di lautan dan tempat pembuangan akhir, tetapi juga berisiko melepaskan zat kimia berbahaya ke dalam makanan. Zat-zat ini bisa mengganggu sistem hormon dan kesehatan tubuh manusia.
Untungnya, sekarang sudah banyak alternatif kemasan ramah lingkungan yang lebih aman untuk bumi dan tubuh. Yuk, simak lima jenis wadah makanan ramah lingkungan yang patut kamu coba, serta tiga jenis yang sebaiknya mulai kamu hindari!
Kaca adalah bahan yang awet, bisa dipakai berulang kali, dan sangat mudah dibersihkan. Kamu bisa menggunakan botol minum atau kotak bekal dari kaca. Namun, karena tutup kaca rawan bocor, banyak wadah yang dipadukan dengan tutup plastik bersekrup silikon atau tutup bambu. Pastikan saja tutup plastiknya bebas BPA (Bisphenol-A), ya!
Baja tahan karat khusus makanan (food-grade) tidak akan berkarat, tahan lama, dan tahan panas. Kotak bekal bento atau stoples penyimpanan dari bahan ini sangat aman untuk makanan. Biasanya, wadah ini dilengkapi segel silikon agar tak gampang bocor.
Bambu bisa terurai secara alami, tahan lama, dan tahan panas. Saat ini, banyak stoples, kotak bekal, hingga mangkuk yang terbuat dari bahan bambu. Namun, perlu diingat bahwa wadah dari serat tanaman seperti bambu biasanya lebih cepat aus dan rentan rusak jika dibandingkan dengan kaca atau baja tahan karat.
Sekam padi adalah limbah sisa hasil panen padi yang harganya murah, dapat diperbarui, dan mudah terurai. Menariknya lagi, bahan ini bisa menyerap polutan dari lingkungan sekitarnya. Sekarang, kamu bisa dengan mudah menemukan kotak bekal atau mangkuk anti-pecah yang terbuat dari bahan ini.
Kemasan berwujud lapisan tipis dari gelatin kini makin populer karena tidak beracun dan harganya terjangkau. Gelatin juga diakui aman oleh badan pengawas makanan. Hebatnya, film gelatin ini sering ditambahkan kandungan selulosa antimikroba yang bisa menghambat pertumbuhan bakteri penyebab penyakit bawaan makanan, seperti E. coli.
Sedotan, botol minuman, tutup botol, gelas Styrofoam, dan kantong plastik adalah penyumbang sampah lingkungan yang paling besar. Plastik ini tak bisa terurai alami, melainkan hancur menjadi mikroplastik yang mencemari lingkungan dan mengancam kesehatan.
BPA adalah zat adiktif yang sering digunakan dalam pembuatan produk plastik. Zat ini bisa berpindah dari kemasan langsung ke dalam makananmu. Jika termakan, BPA bisa meningkatkan risiko masalah kesuburan hingga gangguan metabolisme.
Penggunaan wadah plastik sekali pakai untuk makanan bawa pulang menyumbang tumpukan sampah yang sangat besar, yang berujung pada polusi dan racun lingkungan.
(Agustina Wulandari )