MENYANTAP nasi dalam keadaan begitu panas tentunya terasa begitu nikmat. Bahkan, nasi putih panas bisa makin menggugah selera makan.
Tetapi, mengonsumsi nasi dalam keadaan masih panas ternyata memunculkan perdebatan di kalangan ahli gizi. Sebagian pakar menyebut bahwa nasi panas dapat memicu peningkatan kadar gula darah lebih cepat dibandingkan nasi yang sudah didinginkan. Namun apakah itu fakta atau sekadar mitor belaka?
Dilansir dari Punchng, Jumat (22/5/2026), menurut ahli gizi, nasi panas memiliki indeks glikemik (GI) yang lebih tinggi. Artinya, proses pemecahan karbohidrat menjadi glukosa berlangsung lebih cepat sehingga gula darah bisa naik lebih cepat setelah dikonsumsi.
Kondisi ini menjadi perhatian khusus bagi penderita diabetes atau mereka yang sedang mengontrol kadar gula darah. Lonjakan gula darah yang tidak terkendali dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko komplikasi kesehatan.
Namun, ahli juga menjelaskan bahwa ketika nasi didinginkan, struktur patinya berubah dan membentuk pati resisten. Zat ini lebih sulit dicerna tubuh sehingga dapat memperlambat penyerapan glukosa.
Meski begitu, tidak semua ahli sepakat bahwa nasi harus selalu didinginkan sebelum dimakan. Beberapa menyebutkan bahwa nasi sebaiknya tetap dikonsumsi dalam kondisi hangat untuk menghindari risiko pertumbuhan bakteri seperti bacillus cereus yang dapat menyebabkan keracunan makanan jika nasi dibiarkan terlalu lama.
Ahli gizi lain juga menekankan bahwa makanan sebaiknya dikonsumsi dalam kondisi yang tidak terlalu panas maupun terlalu dingin. Hal ini diperlukan agar nasi tetap aman dan nyaman bagi tubuh.
Selain itu, mengonsumsi nasi panas juga memiliki sisi positif, seperti lebih mudah dicerna dan dapat membantu penyerapan beberapa nutrisi tertentu. Namun, konsumsi berlebihan tetap perlu dihindari terutama bagi individu dengan kondisi kesehatan tertentu.
Pada akhirnya, para ahli menekankan pentingnya keseimbangan. Cara penyajian nasi, baik panas maupun dingin, sebaiknya disesuaikan dengan kondisi kesehatan, kebersihan, dan kebutuhan masing-masing individu.
(Djanti Virantika)