JAKARTA - Sering terbangun pada pukul 3 atau 4 pagi lalu sulit tidur kembali bisa menjadi tanda gangguan tidur yang dikenal sebagai early awakening insomnia. Kondisi ini kerap dikaitkan dengan stres, kecemasan, hingga masalah kesehatan mental yang memengaruhi kualitas istirahat seseorang.
Fenomena tersebut ramai dibahas di media sosial melalui unggahan akun X @0xhanyfa. Dalam utasnya dijelaskan bahwa kondisi ini berbeda dengan insomnia pada umumnya yang membuat seseorang kesulitan memulai tidur.
“Beda sama orang yang susah mulai tidur (onset insomnia), tipe yang ini biasanya gampang tidur, tapi nggak bisa tidur lama atau lanjut terus,” tulis akun tersebut.
Orang yang mengalami kondisi ini biasanya terbangun terlalu dini meski tubuh masih terasa lelah. Namun, mata dan pikiran sulit kembali rileks untuk melanjutkan tidur.
Kondisi tersebut dapat menjadi sinyal adanya gangguan fisik maupun mental. Salah satu penyebab yang paling umum adalah meningkatnya hormon kortisol akibat stres dan kecemasan.
“Hormon stres alias kortisol bisa naik terlalu cepat jam 3–4 pagi, bikin otak auto kebangun sebelum waktunya,” lanjut unggahan itu.
Selain stres, depresi juga disebut berkaitan dengan kebiasaan bangun terlalu pagi. Tidak hanya sulit tidur kembali, penderita biasanya merasa gelisah, dada terasa berat, hingga mengalami perasaan kosong saat terbangun.
“Di dunia psikiatri, kebangun terlalu pagi termasuk salah satu tanda yang cukup umum dari depresi,” tulisnya lagi.
Faktor usia juga memengaruhi pola tidur seseorang. Seiring bertambahnya usia, produksi melatonin atau hormon tidur cenderung menurun sehingga seseorang lebih mudah tidur dan bangun lebih awal.
Selain itu, sleep apnea atau gangguan pernapasan saat tidur juga dapat menyebabkan seseorang tiba-tiba terbangun pada dini hari.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan. Salah satunya menerapkan “20-minute rule”. Jika tidak bisa tidur kembali dalam waktu sekitar 20 menit, seseorang disarankan keluar dari tempat tidur sejenak dan tidak memaksakan diri untuk tetap berbaring.
Cara ini bertujuan agar otak tidak mengasosiasikan kasur sebagai tempat untuk overthinking. Selain itu, disarankan pula untuk tidak langsung melihat jam atau membuka ponsel saat terbangun karena dapat memicu rasa cemas.
“Begitu lihat ternyata udah jam 3.15 pagi, otak langsung panik,” tulis akun tersebut.
Menjaga jadwal tidur tetap teratur dan menghindari konsumsi kafein pada sore hingga malam hari juga penting dilakukan agar ritme biologis tubuh tetap stabil.
Kurang tidur dalam jangka panjang dapat berdampak pada konsentrasi, emosi, hingga kesehatan mental. Karena itu, jika kondisi sering bangun dini hari dan sulit tidur kembali berlangsung lebih dari satu bulan, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter untuk mengetahui penyebab pastinya.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)