JAKARTA - Ketidakstabilan nilai tukar rupiah membuat masyarakat perlu lebih berhati-hati dalam mengelola keuangan, termasuk saat memilih instrumen investasi. Di tengah kondisi ekonomi yang fluktuatif, para ibu rumah tangga disarankan memilih investasi dengan risiko yang lebih rendah agar nilai aset tetap aman.
Perencana Keuangan Andy Nugroho, mengatakan masyarakat sebaiknya menghindari instrumen investasi berisiko tinggi saat kondisi rupiah sedang melemah.
“Yang pasti sebaiknya hindari instrumen investasi yang berisiko tinggi. Walaupun sebenarnya tetap bisa cuan, tapi secara umum lebih aman memilih investasi dengan risiko rendah sampai moderat,” ujar Andy.
1. Pilih Reksadana Pasar Uang atau Pendapatan Tetap
Menurut Andy, masyarakat yang ingin berinvestasi di reksadana sebaiknya memilih produk berbasis pasar uang atau pendapatan tetap karena risikonya relatif lebih rendah.
Instrumen ini dinilai lebih stabil dibandingkan reksadana saham maupun reksadana campuran yang pergerakannya lebih fluktuatif mengikuti kondisi pasar.
“Kalau reksadana, sebaiknya pilih yang berbasis pasar uang ataupun pendapatan tetap karena risikonya rendah dan moderat,” katanya.
Sementara itu, reksadana saham dan pasar derivatif disarankan untuk dihindari terlebih dahulu bagi investor pemula atau mereka yang ingin menjaga kestabilan keuangan keluarga.
2. Logam Mulia Cocok untuk Jangka Panjang
Investasi emas atau logam mulia juga dinilai cocok saat rupiah melemah. Namun Andy mengingatkan investasi emas sebaiknya disimpan dalam jangka panjang agar hasilnya lebih optimal.
“Logam mulia cocok, namun sebaiknya di-hold paling tidak selama tiga tahun,” ujarnya.
Emas sering dianggap sebagai aset aman karena nilainya cenderung stabil dan bisa menjadi pelindung saat kondisi ekonomi tidak menentu.
3. Obligasi Negara Bisa Jadi Alternatif Aman
Pilihan lain yang dinilai menarik adalah obligasi ritel negara seperti ORI maupun Sukuk Ritel. Menurut Andy, instrumen ini menawarkan imbal hasil yang relatif lebih tinggi dibanding deposito, namun dengan risiko yang masih terjaga.
“Kenapa cocok? Karena imbal hasilnya masih lebih tinggi dibanding deposito, namun risikonya tidak setinggi pasar saham,” katanya.
Selain itu, obligasi negara juga dianggap lebih aman karena dijamin pemerintah.
4. Investasi Valas untuk yang Sudah Paham Risiko
Bagi masyarakat yang memiliki modal cukup dan memahami risiko investasi, Andy mengatakan investasi valuta asing (valas) juga bisa menjadi pilihan.
Misalnya membeli dolar Amerika Serikat atau mata uang lain yang dianggap lebih kuat dibanding rupiah.
“Kalau cukup paham dan punya modal, bisa juga investasi di valas seperti USD atau mata uang lain yang dirasa lebih kuat,” ujarnya.
Namun ia mengingatkan investasi valas tetap memiliki risiko fluktuasi nilai tukar sehingga perlu pemahaman yang matang sebelum membeli.
Andy menegaskan, di tengah kondisi rupiah yang tidak stabil, masyarakat sebaiknya lebih fokus menjaga keamanan aset dibanding mengejar keuntungan besar dalam waktu singkat.
Instrumen berisiko tinggi seperti saham agresif maupun derivatif dinilai kurang cocok bagi investor yang belum siap menghadapi gejolak pasar.
Karena itu, penting bagi para ibu untuk menyesuaikan pilihan investasi dengan tujuan keuangan, profil risiko, dan kondisi keuangan keluarga agar tetap aman di tengah ketidakpastian ekonomi.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)