Misalnya membeli dolar Amerika Serikat atau mata uang lain yang dianggap lebih kuat dibanding rupiah.
“Kalau cukup paham dan punya modal, bisa juga investasi di valas seperti USD atau mata uang lain yang dirasa lebih kuat,” ujarnya.
Namun ia mengingatkan investasi valas tetap memiliki risiko fluktuasi nilai tukar sehingga perlu pemahaman yang matang sebelum membeli.
Andy menegaskan, di tengah kondisi rupiah yang tidak stabil, masyarakat sebaiknya lebih fokus menjaga keamanan aset dibanding mengejar keuntungan besar dalam waktu singkat.
Instrumen berisiko tinggi seperti saham agresif maupun derivatif dinilai kurang cocok bagi investor yang belum siap menghadapi gejolak pasar.
Karena itu, penting bagi para ibu untuk menyesuaikan pilihan investasi dengan tujuan keuangan, profil risiko, dan kondisi keuangan keluarga agar tetap aman di tengah ketidakpastian ekonomi.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)