Prioritas pertama adalah kebutuhan yang sifatnya wajib dan tidak bisa ditunda. Misalnya cicilan utang, uang sekolah anak, pembayaran air, listrik, hingga kebutuhan pokok lain yang berkaitan dengan kewajiban rumah tangga.
“Pengeluaran yang sangat penting dan wajib harus diutamakan dulu,” katanya.
Setelah kebutuhan utama terpenuhi, barulah keluarga mengatur pengeluaran untuk kebutuhan penting yang masih bisa disesuaikan jumlahnya. Kategori ini mencakup susu anak, pampers, kosmetik, biaya makan sehari-hari, hingga transportasi ke kantor.
Andi menyebut kebutuhan pada kategori ini masih bisa diakali dengan mencari alternatif yang lebih murah tanpa menghilangkan fungsi utamanya. Misalnya mengganti merek susu atau produk kebutuhan rumah tangga dengan harga yang lebih terjangkau.
“Kalau ternyata harganya sudah terlalu mahal, pilihannya bisa mengganti dengan barang serupa yang lebih murah, beda merek, atau kualitasnya diturunkan,” ujarnya.