Keberhasilan Ashanty menyelesaikan pendidikan hingga jenjang doktor dinilai menjadi bukti bahwa perempuan tetap bisa mengejar pendidikan tinggi, meski memiliki banyak tanggung jawab dalam keluarga. Semangatnya juga menjadi pengingat bahwa proses belajar tidak mengenal usia.
Tak hanya menjadi pencapaian pribadi, Ashanty berharap ilmu yang dimilikinya bisa bermanfaat bagi orang lain. Bahkan, setelah resmi lulus S3, ia mengaku sudah mendapat tawaran untuk mengajar di beberapa kampus di Solo dan Jakarta.
“Insya Allah habis wisuda Juni, Juli aku udah disuruh ngajar di Solo terus di Jakarta. Tapi aku bilang ngajarnya anak semester satu dulu ya,” tutur Ashanty.
Kisah Ashanty pun menjadi inspirasi bagi banyak perempuan Indonesia untuk terus berkembang dan memperluas wawasan. Berapa pun usianya, perempuan tidak boleh berhenti belajar di tengah berbagai peran yang dijalani dalam kehidupan sehari-hari.
(Djanti Virantika)