“Dengan teknologi yang ada ini, kita 91 persen sudah bisa baca isinya. Jadi ketika kita kumpulin buku (DNA) ini dalam satu populasi. Nah itu kan kita bisa lihat pohon pergerakan, berapa orang dari populasi tersebut yang nanti misalnya mengembangkan kanker payudara, kanker paru,” tambah dr. Vincentius.
Melalui genome sequencing ini, para ilmuwan dapat memahami risiko penyakit seseorang bahkan sebelum gejala muncul. Dengan begitu, mendeteksi penyakit dari DNA ini dapat menjadi langkah preventif untuk menangani masalah gangguan dan komplikasi penyakit kronis.
Jason Kang, Ph.D., General Manager Asia di Ultima Genomics, mengungkap saat ini puluhan alat sekuensing telah tersebar di berbagai wilayah Indonesia dan didukung Kementerian Kesehatan RI. Ditargetkan sedikitnya 200 ribu genom masyarakat Indonesia dapat berhasil disekuensing.
“Dengan sistem UG200 terbaru yang memiliki skalabilitas tinggi dan biaya sekuensing yang lebih rendah, kami membuka peluang yang sebelumnya tidak terjangkau,” ujarnya.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)