JAKARTA - Kisah seorang anak Papua yang untuk pertama kalinya menikmati susu kemasan menyita perhatian warganet. Bocah asal Tanah Papua itu bahkan belum mengetahui cara meminum susu menggunakan sedotan, sesuatu yang lazim dilakukan anak-anak di kota besar. Momen tersebut memperlihatkan kesenjangan akses yang masih terjadi di berbagai wilayah Indonesia.
Anak itu tampak kikuk, namun tak berhenti tersenyum saat mencoba pengalaman barunya. Dalam video tersebut, ia sempat berusaha membuka kemasan dengan menyobek bagian bawah kotak susu, sebelum akhirnya dibimbing untuk menusukkan sedotan pada bagian atas kemasan. “Belum pernah saya minum susu ini,” ujarnya polos.
Sebelum beranjak pergi, perekam video kembali memberinya satu kotak susu kecil. “Kamu masukkan ke noken ya, biar tak diambil orang,” pesannya, merujuk pada tas tradisional khas Papua. Adegan sederhana itu menjadi potret nyata tentang arti sebuah kemasan bagi anak di wilayah pedalaman.
Video tersebut diunggah di TikTok dan direpost oleh akun d_blank.galipat pada Jumat (27/2/2026). Meski tidak dijelaskan identitas maupun detail lengkap peristiwanya, kisah dari Timur Indonesia ini cukup membuka mata tentang pentingnya akses nutrisi bagi wilayah terjauh di Indonesia. Melalui sebuah kemasan, anak yang tinggal di pedalaman akhirnya dapat menikmati susu dalam kondisi aman dan layak konsumsi.
Di balik momen sederhana itu tersimpan persoalan yang lebih besar tentang pemerataan gizi nasional. Bagi anak-anak yang tinggal jauh dari pusat distribusi dan minim infrastruktur, menghadirkan susu dalam kondisi aman bukanlah perkara mudah. Dibutuhkan sistem yang mampu menjaga kualitas nutrisi sejak proses produksi hingga sampai ke tangan penerima, tanpa terhambat jarak, suhu, maupun keterbatasan fasilitas penyimpanan.
Peran Penting Aseptik Kemasan Susu dalam Indonesia Emas 20245
Salah satu yang berperan penting dalam suksesi susu kemasan tersebut adalah aseptik. Tapi apakah khalayak umum dengan dengan aseptik kemasan susu?
Memang terdengar awam. Tapi fungsinya memegang peran sangat penting dalam keberhasilan mata rantai distribusi susu hingga ke pelosok nusantara dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), termasuk ke Papua.
Program MBG memang tengah digalakkan oleh pemerintah. Namun implementasinya masih perlu penyempurnaan tertutama hal dalam aseptik kemasan susu dan menu, sehingga bisa tersaji higienis dan aman dikonsumsi siswa.
Sebagai instrumen strategis, peran aseptik bisa memutus rantai stunting. Tidak hanya itu, aseptik kemasan susu juga memberikan kontribusi untuk meningkatkan skor IQ generasi muda. Sebab susu adalah sumber protein hewani yang mudah diserap tubuh anak-anak dan berperan penting dalam perkembangan kognitif.
Namun, tantangan mendasar masih membayangi. Tingkat konsumsi susu masyarakat Indonesia tergolong rendah dibandingkan negara-negara tetangga di Asia Tenggara. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), konsumsi susu nasional saat ini berada di kisaran 16,3 kg per kapita per tahun. Data terbaru 2025/2026 juga menunjukkan konsumsi susu Indonesia baru mencapai sekitar 17,76 liter per kapita per tahun.
Angka tersebut tertinggal jauh dibandingkan Thailand yang mencapai 33 kg per kapita per tahun, Malaysia 50,9 kg, serta Singapura yang jauh lebih tinggi. Dalam perbandingan regional terbaru, Malaysia tercatat 42,7 liter per kapita per tahun, Vietnam 37,2 liter, dan Singapura 46,1 liter.
Rendahnya konsumsi ini berdampak langsung pada prevalensi anemia dan defisiensi mikronutrien pada anak usia sekolah, yang menjadi penghambat utama dalam mencapai potensi akademik dan kecerdasan optimal.
Selain persoalan konsumsi, kesenjangan produksi juga menjadi tantangan serius. Produksi susu dalam negeri saat ini hanya mampu memenuhi sekitar 20 persen dari total kebutuhan nasional, sementara 80 persen sisanya masih bergantung pada impor.
Ketergantungan ini berisiko mengganggu stabilitas pasokan, terutama dalam program berskala besar seperti MBG yang menuntut distribusi rutin dan masif ke seluruh wilayah Indonesia.
Keberhasilan MBG Tak Selalu Soal Gizi
Direktur Utama PT Lami Packaging Indonesia, Hongbiao Li, menegaskan bahwa keberhasilan MBG tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan susu, tetapi juga oleh kualitas dan keamanan produk hingga sampai ke tangan anak-anak. Menurutnya, susu bukan sekadar pelengkap menu, melainkan instrumen vital untuk memerangi stunting dan meningkatkan kecerdasan kognitif generasi muda.
Tantangan terbesar dalam integrasi susu ke dalam MBG terletak pada distribusi dan keamanan pangan. Indonesia sebagai negara kepulauan menghadapi kendala infrastruktur, terutama keterbatasan rantai dingin (cold chain). "Susu sebagai produk bernutrisi mudah rusak membutuhkan sistem yang mampu menjaga kualitasnya sejak proses produksi hingga dikonsumsi," ujarnya, dikutip dari pernyataan Jumat (27/2/2026).
Public Relations Manager PT Lami Packaging Indonesia, Ahmad Rizalmi, menjelaskan bahwa teknologi kemasan aseptik menjadi solusi atas tantangan tersebut. Kemasan aseptik memungkinkan susu tetap segar dan bernutrisi selama 9 hingga 12 bulan tanpa bahan pengawet dan tanpa memerlukan pendinginan.
Logistik di Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki tantangan suhu dan waktu. Kemasan aseptik LamiPak dirancang dengan teknologi perlindungan berlapis yang memastikan nutrisi susu tetap utuh meski didistribusikan ke wilayah pelosok tanpa rantai dingin.
"Kami ingin memastikan bahwa satu kotak susu yang diterima anak-anak di daerah terpencil memiliki kualitas yang sama baiknya dengan di kota besar,” ujarnya.
Tanpa dukungan pengemasan yang memadai, dampak gizi yang diharapkan dari MBG tidak akan tercapai secara optimal. Di banyak wilayah, keterbatasan infrastruktur cold chain meningkatkan risiko penurunan mutu dan membatasi akses masyarakat terhadap produk susu yang aman. Akibatnya, masyarakat di daerah terpencil dan tertinggal menghadapi ketimpangan akses terhadap pangan bergizi.
Kemasan aseptik menawarkan solusi praktis dengan menjaga sterilitas susu tanpa bahan pengawet sekaligus memungkinkan distribusi lebih luas dan efisien. Teknologi ini menjadi kunci dalam memastikan pemerataan akses gizi, sehingga anak-anak di wilayah 3T memperoleh kualitas nutrisi yang setara dengan di kota besar.
Dalam mendukung ketahanan pasokan nasional, PT Lami Packaging Indonesia juga memperkuat strategi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Perusahaan mengoperasikan pabrik kemasan aseptik berteknologi tinggi di Cikande, Serang, Banten. Investasi manufaktur lokal ini menjadi tonggak penting dalam memperkuat kemandirian industri kemasan nasional, mengurangi ketergantungan impor, serta menciptakan lapangan kerja bagi tenaga ahli lokal.
Produksi kemasan di dalam negeri membantu produsen susu memenuhi ambang batas TKDN yang dipersyaratkan pemerintah untuk masuk ke dalam ekosistem pengadaan MBG. Upaya sourcing lokal terus dilakukan dengan meningkatkan penggunaan bahan baku yang tersedia di pasar domestik. Setiap kemasan yang diproduksi di Cikande memberikan nilai tambah ekonomi langsung bagi ekosistem industri nasional.
Keberadaan manufaktur lokal juga menjamin keamanan stok kemasan dan efisiensi biaya logistik internasional. Dalam program MBG yang berskala masif, ketergantungan pada kemasan impor berisiko mengganggu stabilitas pasokan jika terjadi krisis logistik global. Dengan pabrik lokal, pasokan kemasan susu dapat tersedia tepat waktu untuk mendukung jadwal distribusi harian MBG, sekaligus memungkinkan alokasi anggaran lebih besar untuk peningkatan kualitas nutrisi susu.
Dalam konteks Indonesia Emas 2045, peningkatan IQ anak bangsa tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemberian makanan bergizi, tetapi juga oleh kemampuan sistem nasional menjaga kualitas nutrisi hingga ke pelosok.
Kemasan aseptik menjadi bagian integral dari ekosistem tersebut, sebuah infrastruktur sunyi yang memastikan setiap gelas susu yang dikonsumsi anak Indonesia benar-benar membawa manfaat optimal bagi hak pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif anak Indonesia, dari Sabang sampai ke Merauke.
(LMB)
(Rani Hardjanti)