“Jika seseorang memang sudah cenderung depresi, maka kemungkinan besar ia akan lebih sering menggunakan media sosial,” jelas Vidal.
Penelitian ini juga menemukan bahwa penggunaan media sosial yang tinggi dan tingkat depresi yang tinggi berkaitan dengan lebih sedikitnya waktu yang dihabiskan di ruang hijau. Selain itu, kebiasaan menggunakan ganja dan begadang juga berhubungan dengan tingkat depresi yang lebih tinggi.
Para peneliti menyimpulkan bahwa media sosial dan depresi memang saling berkaitan, tetapi penggunaan media sosial tidak terbukti secara langsung menyebabkan peningkatan depresi. Meski begitu, orang yang mengalami depresi disarankan untuk membatasi waktu di media sosial dan memperbanyak kebiasaan sehat lainnya.
“Kurang bergerak, sering begadang, dan penggunaan ganja memiliki risiko bagi kesehatan mental,” kata Vidal. “Penting bagi tenaga kesehatan dan orang tua untuk mendorong kebiasaan hidup sehat, termasuk menjaga keseimbangan antara penggunaan media sosial, aktivitas luar ruangan, dan olahraga.”
Para peneliti menilai media sosial memiliki banyak sisi dan masih perlu diteliti lebih lanjut dampaknya terhadap kesehatan mental, terutama pada anak-anak dan remaja di era digital saat ini.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)