JAKARTA - Dalam beberapa dekade terakhir, jumlah remaja dan dewasa muda yang mengalami depresi terus meningkat. Di saat yang sama, penggunaan teknologi dan media sosial juga semakin menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun, hingga kini belum sepenuhnya jelas bagaimana hubungan antara media sosial dan depresi, serta kaitannya dengan kebiasaan lain seperti olahraga, berada di ruang hijau, penggunaan ganja, dan kebiasaan begadang.
Untuk menjawab hal tersebut, sebuah penelitian yang diterbitkan pada 15 Mei di International Journal of Mental Health and Addiction dilakukan oleh tim peneliti dari Johns Hopkins Children’s Center. Penelitian ini bertujuan melihat hubungan antara penggunaan media sosial, depresi, dan perilaku kesehatan lainnya pada orang dewasa muda dalam periode waktu tertentu.
“Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa semakin tinggi penggunaan media sosial, semakin tinggi pula tingkat depresi. Namun, pertanyaannya adalah apakah media sosial menyebabkan depresi, atau justru orang yang depresi lebih sering menggunakan media sosial dan kurang melakukan aktivitas sehat seperti olahraga atau berada di alam terbuka,” ujar Carol Vidal, MD, Ph.D., MPH, penulis utama studi ini.
Penelitian ini melibatkan 376 orang dewasa muda di Kanada, mayoritas perempuan. Para peserta diminta mengisi tiga kuesioner daring antara Mei 2021 hingga Januari 2022. Mereka melaporkan kondisi depresi menggunakan skala PHQ-9, serta kebiasaan menggunakan media sosial, aktivitas fisik, paparan ruang hijau, dan penggunaan ganja.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar peserta mengalami setidaknya gejala depresi ringan. Mereka yang lebih sering menggunakan media sosial cenderung memiliki tingkat depresi yang lebih tinggi. Sebaliknya, peserta yang mengalami depresi juga lebih sering menghabiskan waktu di media sosial. Namun, peneliti tidak menemukan bukti bahwa penggunaan media sosial secara langsung menyebabkan gejala depresi semakin parah dari waktu ke waktu.
“Jika seseorang memang sudah cenderung depresi, maka kemungkinan besar ia akan lebih sering menggunakan media sosial,” jelas Vidal.
Penelitian ini juga menemukan bahwa penggunaan media sosial yang tinggi dan tingkat depresi yang tinggi berkaitan dengan lebih sedikitnya waktu yang dihabiskan di ruang hijau. Selain itu, kebiasaan menggunakan ganja dan begadang juga berhubungan dengan tingkat depresi yang lebih tinggi.
Para peneliti menyimpulkan bahwa media sosial dan depresi memang saling berkaitan, tetapi penggunaan media sosial tidak terbukti secara langsung menyebabkan peningkatan depresi. Meski begitu, orang yang mengalami depresi disarankan untuk membatasi waktu di media sosial dan memperbanyak kebiasaan sehat lainnya.
“Kurang bergerak, sering begadang, dan penggunaan ganja memiliki risiko bagi kesehatan mental,” kata Vidal. “Penting bagi tenaga kesehatan dan orang tua untuk mendorong kebiasaan hidup sehat, termasuk menjaga keseimbangan antara penggunaan media sosial, aktivitas luar ruangan, dan olahraga.”
Para peneliti menilai media sosial memiliki banyak sisi dan masih perlu diteliti lebih lanjut dampaknya terhadap kesehatan mental, terutama pada anak-anak dan remaja di era digital saat ini.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)