Menurut Ezra, kurikulum memiliki peran besar dalam membentuk pengalaman tersebut. Karena itu, NJIS memilih Kurikulum International Baccalaureate (IB), yang sejak awal dirancang untuk menyeimbangkan tantangan intelektual dengan refleksi serta rasa aman emosional.
“Kurikulum yang kami terapkan memberi ruang bagi setiap anak untuk merasa cukup aman mengatakan ‘aku belum bisa’, lalu cukup percaya diri untuk mencoba lagi. Di situlah pembelajaran yang sesungguhnya terjadi,” kata Ezra.
Sekolah perlu hadir sebagai ruang aman yang menghargai proses, tidak memberi stigma pada kesalahan, serta tidak memuja capaian akademik semata. Dalam pandangan Ezra, masa depan pendidikan harus dirancang untuk menjawab kebutuhan dasar emosional dalam membentuk pribadi anak secara menyeluruh.
“Pendidikan ke depan tidak bisa berjalan timpang. Ia harus menyeimbangkan kemampuan intelektual dengan kesadaran diri, kematangan emosional, dan nilai-nilai kemanusiaan agar anak benar-benar tumbuh sebagai manusia seutuhnya,” pungkas Ezra.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)