SEBANYAK 35 dokter Amerika dan internasional datang ke Gaza sebagai sukarelawan untuk membantu salah satu dari sedikit rumah sakit yang masih berfungsi di wilayah tersebut. Mereka tahu sistem layanan kesehatan telah hancur, untuk itu para dokter ini membawa perbekalan medis dan telah berlatih di salah satu zona perang terburuk di dunia.
Namun, kenyataannya bahkan lebih buruk dari yang mereka bayangkan. Banyak anak-anak dengan amputasi mengerikan, penderita luka bakar dan luka penuh belatung, serta infeksi yang merajalela. Dokter Ammar Ghanem, spesialis ICU dari Detroit yang tergabung dalam Syria American Medical Society tidak menyangka kondisinya akan seburuk itu.
Melansir dari Associated Press pada Rabu (21/5/2024), serangan Israel ke kota Rafah selatan telah memperburuk kekacauan tersebut. Pada 6 Mei pasukan Israel merebut penyeberangan Rafah ke Mesir serta menutup pintu masuk dan keluar utama bagi pekerja kemanusiaan internasional.
Akibatnya, tim dokter tersebut terjebak di luar jadwal akhir misi dua minggu mereka. Selanjutya, pembicaraan yang dilakukan pada Jumat, beberapa hari setelah tim seharusnya berangkat antara otoritas AS dan Israel membuahkan hasil dan beberapa dokter dapat keluar dari Gaza.
Namun, menurut Asosiasi Medis Amerika Palestina, sekitar 14 orang, termasuk tiga orang Amerika memilih untuk tetap tinggal. Selain itu, Gedung Putih juga mengatakan bahwa 17 orang Amerika meninggalkan Gaza pada Jumat, dan sekitar tiga orang memilih untuk tetap tinggal.
Mereka yang meninggalkan gaza, termasuk Ghanem mengatakan perjalanan sejauh 15 mil dari rumah sakit ke penyeberangan Karen Shalom memakan waktu lebih dari empat jam karena ledakan terjadi di sekitar mereka. Selain itu, dia juga menggambarkan beberapa momen menegangkan, seperti ketika sebuah tank Israel di persimpangan membidik konvoi dokter.
14 dokter dari Asosiasi Medis Amerika Palestina yang memilih untuk tetap tinggal salah satunya yaitu termasuk Adam Hamawy dari Amerika. Dia dipuji oleh Senator AS Tammy Duckworth karena menyelamatkan nyawanya ketika menjadi pilot helikopter militer di Irak pada 2004.
Kedua tim internasional telah bekerja sejak awal Mei di Rumah Sakit Umum Eropa, tepat di luar Rafah yang merupakan rumah sakit terbesar yang masih beroperasi di Gaza selatan. Sebagian besar sukarelawan adalah ahli bedah Amerika, juga termasuk profesional medis dari Inggris, Australia, Mesir, Yordania, Oman, dan negara-negara lainnya.
Sekedar informasi, serangan Israel di Gaza yang dipicu oleh serangan Hamas pada 7 Oktober di Israel Selatan telah menghancurkan berbagai sistem kesehatan. Hampir dua lusin rumah sakit di Gaza tidak lagi beroperasi dan belasan rumah sakit lainnya hanya berfungsi sebagian.
Menurut pejabat kesehatan Gaza, kampanye Israel telah menewaskan lebih dari 35.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 79.000 orang. Selain itu, hampir 500 petugas kesehatan termasuk di antara korban tewas.
Operasi militer di Rafah yang berlansung hampir dua pekan telah menyebabkan lebih dari 600.000 warga Palestina meninggalkan kota tersebut dan berpencar ke seluruh Gaza Selatan. Sebagian besar staf Rumah Sakit Eropa di Palestina pergi untuk membantu keluarga-keluarga tersebut menemukan tempat berlindung baru.