Selanjutnya, Israel telah melakukan operasi besar-besaran di rumah sakit terbesar di Gaza, Shifa selama sepekan terakhir. Selain itu, Israel juga menuduh bahwa rumah sakit berfungsi sebagai pusat komando, fasilitas penyimpanan senjata dan tempat persembunyian Hamas.
Pasukan israel tidak menyerang atau mengepung para Martir Al-Aqsa. Namun, menyerang daerah sekitarnya dan terkadang menyerang di dekat rumah sakit. Hal itu membuat banyak dokter, pasien, dan pengungsi Palestina meninggalkan rumah sakit pada Januari 2024.
Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, pemboman dan serangan Israel di Gaza telah menewaskan lebih dari 32.000 warga Palestina dan melukai hampir 75.000 lainnya di wilayah berpenduduk 2,3 juta orang. Sekitar dua pertiga dari mereka yang tewas adalah perempuan dan anak-anak.
Pertempuran yang terus berlanjut ini berdampak sangat buruk. Staf rumah sakit kesulitan mengatasi kekurangan suku cadang untuk memelihara peralatan medis. Selain itu, para Martir Al-Aqsa juga kekurangan anastesi yang membuat operasi dan prosedur lainnya dilakukan tanpa obat penghilang rasa sakit.
(Leonardus Selwyn)