SEORANG dokter asal Kanada yang menjadi relawan di Gaza melaporkan ada wanita palestina yang dipermalukan secara seksual oleh tentara Israel di depan keluarga mereka. Wanita itu diperkosa selama dua hari hingga tidak dapat berbicara.
Menteri Kesehatan di sana mengatakan sejak 7 Oktober 2023 ada lebih dari 32.000 korban meninggal dunia, yang sebagian besar dari mereka diantaranya adalah bayi dan anak-anak. Disisi lain, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan kalau 1,9 juta warga sipil di Gaza telah mengungsi secara paksa.
Mirisnya, 75 Persen populasinya menghadapi kelaparan dan tidak memiliki akses untuk mendapatkan air bersih. Selain itu, UNICEF telah melaporkan anak-anak meninggal karena menderita kekurangan gizi akibat kelaparan yang melanda.
Laporan ini diperkuat oleh adanya rekaman cctv yang mengungkap pembantaian tanpa henti yang dilakukan Israel terhadap penduduk sipil dengan kehancuran total dan runtuhnya infrastruktur perawatan kesehatannya.
Bahkan lebih dari 80 Persen semua klinik perawatan kesehatan kini telah hancur dan lebih dari 400 petugas kesehatan telah terbunuh bersama dengan 100 jurnalis. Kehancuran itu sangat besar dan melampaui tingkat proporsionalitas apapun.
“Apa yang benar-benar mengejutkan saya adalah ketika kami melihat ketidakadilan di Ukraina, komunitas global bersatu dan berbicara keras menentang ketidakadilan ini seperti yang kami butuhkan. Tetapi ketika kita melihat kekejaman, kejahatan perang, genosida yang terjadi di Palestina dunia justru diam,” kata dr Aliya Khan, Profesor Klinis Kedokteran sekaligus Anggota Dewan Persatuan Organisasi Perawatan dan Bantuan Medis (UOSSM) dalam laman Middle East Monitor, Rabu (27/3/2024).
“Jelas ada standar ganda, dan ini salah. Kita perlu berbicara untuk menyelamatkan semua nyawa, terlepas dari etnis mereka, terlepas dari agama mereka, terlepas dari latar belakang mereka dan struktur politik di mana nyawa ini hilang,” ucapnya.
Khan menyoroti tanggapan kontras dari komunitas global terhadap konflik di Ukraina dan Palestina yang menunjukkan kemunafikan pemerintah Barat dan standar ganda yang lazim. Maka dari itu, mereka mengutuk kelumpuhan PBB yang telah gagal dalam mengambil tindakan untuk mengatasi penderitaan dan kehancuran Palestina.