NURWAHYUNI bersyukur merasakan manfaat yang besar setelah menjadi agen BRILink. Selain membantu layani transaksi perbankan masyarakat setempat, dia mendapatkan keuntungan yang bisa menambah pendapatan keluarga.
Perjuangan hidup Nurwahyuni memang tidak mudah. Sebelum memiliki Toko Yuni di Jalan Bukit Duri, Jakarta Selatan, dia harus kehilangan rumah impiannya bersama keluarga.
Usut punya usut, rumahnya kena gusur karena ada pelebaran jalan.
“Rumah saya pinggir kali (sungai-red). Saat itu kena gusur, karena ada pelebaran jalan,” ucap Yuni kepada Okezone.com di tokonya, kawasan Bukit Duri, Jakarta Selatan, belum lama ini.
Sebagai pengganti, ada kompensasi untuk Yuni dan keluarganya menempati rumah susun sederhana sewa (rusunawa) Rawa Bebek. Namun, Yuni dan keluarga memilih tidak mengambilnya.
Bila tinggal di rusun, Yuni mengaku tetap harus mengeluarkan uang untuk sewa bulanan. Sementara sang suami, Saro’i masih berjualan sebagai pedagang kaki lima di Pasar Jatinegara.
“Lokasinya jauh dengan tempat jualan suami. Daripada tambah ongkos untuk pulang pergi, kami memilih ngontrak rumah yang lokasinya lebih dekat,” kata Yuni.
Ibu dari tiga anak ini mengatakan, uang sewa di rusun memang berbeda di setiap lantai. Untuk lantai paling tinggi, jauh lebih murah.
“Di sana, tergantung lantai. Semakin tinggi, semakin murah. Lantai satu, harga sewanya lebih mahal. Itu belum listrik dan air. Ada dua kamar, ruang tamu sama dapur dan kamar mandi,” tutur Yuni.
Usaha suami Yuni yang berjualan gantungan hijab dan rak sepatu plastik, rupanya tidak bertahan lama.
“Pas korona bangkrut. Pas korona nggak boleh dagang, padahal tempat harus bayar. Dan nggak keburu dibayar,” ucap Yuni.
Yuni merasakan manfaat jadi agen BRILink. (Foto: Tuty Ocktaviany)
Beruntung, usaha warungnya sudah berjalan. Dia pun meminta sang suami untuk membantu usahanya.
“Setelah rumah digusur, orangtua ngontrak rumah ke orang lain dan saya ikut menempati. Ini tidak jauh dari rumah kami yang digusur,” katanya.
Kontrakannya luas, memiliki empat kamar dan bagian depannya bisa dipakai untuk usaha. Lalu, Yuni memutuskan berjualan minuman.
“Mulai usaha sebelum korona, kurang lebih lima tahun lalu. Saya tidak bekerja, jadi jualan kopi teh dengan modal awal tidak besar,” katanya.
Pendapatannya memang tidak banyak setiap hari. Tapi bisa balik modal.
“Pembelinya, sini-sini saja. Tukang gerobak, bangku. Termasuk pelanggan cucian mobil. Tukang angkot jarang-jarang,” ujarnya.
Seiring waktu berjalan, Yuni mulai menambah aneka jualan di tokonya. Termasuk camilan untuk anak-anak karena peminatnya banyak.
“Pembeli suka bilang, jual kopi tidak ada temannya. Itulah yang membuat saya termotivasi menambahi variasi jualan,” kata Yuni yang membuka warungnya dari pukul 06.00 WIB.
Sejak ada tambahan barang dagangan, pedapatan Yuni mulai meningkat. Kalau pembelinya ramai, dia bisa mengantongi pendapatan lebih dari biasanya.
Selama menjalankan usaha, tidak jarang tetangga suka meminta bantuan Yuni untuk transfer uang. Kebetulan dia memiliki buku tabungan Bank Rakyat Indonesia (BRI).
Melihat itu sebagai peluang, Yuni pun tertarik menjadi agen BRILink. Dia kemudian datang ke kantor BRI terdekat untuk menanyakan prosedur menjadi agen BRILink.
Gayung pun bersambung, Yuni mendapatkan kemudahan. Niatnya baru menanyakan dahulu, namun langsung diberi kemudahan menjadi agen BRILink saat itu juga.
“Alhamdulillah, rasanya seperti dirangkul. Prosesnya tidak susah jadi agen BRILink. Saya langsung ditawari dan dibantu prosesnya. Padahal, awalnya hanya tanya-tanya ke BRI. Saya pun bersemangat,” ucap Yuni mengenang momen itu, sekitar 2021 lalu.
Sementara untuk dokumentasi lainnya seperti surat keterangan usaha (SKU) dan NPWP, tinggal disusulkan. Untuk memudahkan orang cepat kenal, dia memberi nama usahanya Toko Yuni.
Sebelum mendapatkan mesin Electronic Data Center (EDC) BRI, Yuni menjalankan usaha BRILink dengan sistem mobile. Sehari setelah diproses, Yuni mendapatkan pelatihan singkat dari mantri BRI.
Yuni memperlihatkan mesin EDC BRI untuk layani transaksi konsumen. (Foto: Tuty Ocktaviany)
“Gampang dari HP juga. Tantangannya sebelum ada mesin EDC, cara membuat orang percaya. Saya harus jelaskan satu per satu ke nasabah. Mereka masih ada yang butuh lihat mesin geseknya. Padahal sama, saya tunjukkan model struknya. Setahun kemudian, saya diberi mesin EDC karena transaksinya terus bertambah,” kata Yuni.
Transaksi di Toko Yuni semakin bertambah setelah ada mesin EDC. Usaha warungnya dan masyarakat yang melakukan transaksi lewat BRILink miliknya terus bertambah.
“Kebanyakan orang transfer ke kampung. Kebanyakan ke Sumedang sama Cirebon,” katanya.
Sadar bahwa persaingan juga ada, Yuni tidak kehilangan cara agar konsumennya tetap loyal memanfaatkan jasa BRILink miliknya. Setiap tahun jelang Lebaran, dia memberikan tunjangan hari raya (THR).
“Tiap tahun saya kasih THR, entah kalender, minyak. Orang jadi tertarik. Itu sebagai bentuk terima kasih dan sedekah juga,” katanya.
Menurut Yuni, pelanggannya senang. “Yang tidak biasa belanja, jadi belanja,” ujarnya.
Rupanya yang dilakukan Yuni hingga bisa sukses menambah pendapatan keluarga, membuat salah satu pelanggannya ikut menjadi agen BRILink. Yuni awalnya sempat mengganggap itu sebagai pesaing, namun sadar bahwa rezeki sudah Allah SWT atur.
“Rezeki tidak kemana-mana. Rezeki tidak tertukar. Orang nyaman ke kita, akan ke kita. Saya tetap fokus saja. Tetap memberikan pelayanan yang terbaik, menjaga mood dan ramah. Meski tidak mudah, namun itu dilakukan agar pelanggan tetap setia,” ucapnya.
Dengan menjadi agen BRILink, Yuni berterima kasih dan bersyukur. Dia punya impian bisa menyekolahkan anak hingga perguruan tinggi.
“Saya hanya lulusan SMA. Waktu itu, saya ingin kuliah. Saya yakinkan terus, tapi tidak diizinkan orangtua. Pola pikir mereka, anak perempuan kalau nikah akan ikut laki. Ujung-ujungnya ke dapur juga. Saya sedih, mau gimana lagi yang biayai mereka. Orangtua yang tahu kemampuan biaya,” ucap Yuni dengan mata berkaca-kaca.
Yuni ingin pengalamannya tidak terjadi kepada sang anak. Dia terus motivasi anaknya yang ingin kuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB), agar terus semangat dan jangan dengarkan omongan orang lain.
“Jangan takut biaya. Mama masih mampu, diusahakan. Harus semangat, kalau udah kuliah jangan petantang-petenteng,” kata Yuni yang ingin suatu saat bisa memiliki rumah sendiri lagi.
Sekalipun rumahnya kecil, ucap Yuni, rasanya berbeda. Lebih puas. “Sampai saat ini masih mengumpulkan uang dulu. Yakin, suatu saat punya rumah sendiri,” kata Yuni.
Yuni mengecek fitur di mesin EDC dengan panduan mantri BRI. (Foto: Tuty Ocktaviany)
Syarat dan Cara Jadi Agen BRLink
BRILink merupakan program Bank Rakyat Indonesia (BRI) untuk para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan konsep sharing fee, yang memiliki peran sebagai mini ATM BRI.
Program ini bertujuan untuk memudahkan masyarakat dalam bertransaksi perbankan secara real time online, dengan fitur Electronic Data Capture (EDC) Mini ATM BRI.
Sementara itu, kesuksesan para agen BRILink pun menjadi perhatian. Lantas, apa saja syarat untuk jadi Agen BRILink?
Mengutip dari laman resmi Bank BRI, berikut syarat jadi agen BRILink.
1. Belum menjadi agen dari Bank penyelenggara Laku Pandai.
2. Memiliki surat keterangan legalitas usaha (sekurang-kurangnya dari perangkat desa) atau SK pengangkatan pegawai tetap atau SK pensiunan.
3. Memiliki sumber penghasilan dari kegiatan usaha dan atau kegiatan tetap lainnya minimal dua tahun.
4. Memiliki rekening simpanan berkartu di Bank BRI, menyetor uang jaminan sebesar Rp3 juta dan saldo tersebut diblokir selama menjadi agen.
5. Bisa juga, memiliki rekening pinjaman di Bank BRI (tanpa harus menyetor uang jaminan) dengan kolektibilitas lancar selama enam bulan terakhir.
6. Pengajuan agen dapat berbentuk perseorangan atau instansi berbadan hukum.
Agen BRILink juga akan diberi edukasi secara berkala dan bersifat rutin untuk memberi kesadaran pentingnya perlindungan aktivitas usaha yang mereka jalankan.
Lebih lanjut, edukasi tersebut biasanya diberikan melalui media sosial dan kunjungan langsung ke agen BRILink oleh jajaran pekerja BRI, yakni Petugas Agen BRILink (PAB). Agen BRILink juga tergabung dalam komunitas yang disebut BRILinkers.
Kreativitas Kunci Sukses Agen BRILink
Sementara itu ditemui terpisah, Pimpinan Cabang BRI KC Jakarta Otista R Mochamad Yogiprayogi mengapresiasi upaya dari para agen BRILink untuk terus menaikkan transaksi.
Dia menyarankan kepada para agen terus kreatif. Caranya, dengan memasarkan produk-produk yang dimiliki BRI.
“Masalah persaingan, kembali lagi ke agen BRILink bisa memasarkan produk BRI. Banyak kok kita, ada asuransi. Tidak hanya terima atau setor,” kata Yogi kepada Okezone.com di kantor, Jalan Otto Iskandardinata Nomor 72, Jakarta Timur, belum lama ini.
Pimpinan Cabang BRI KC Jakarta Otista R Mochamad Yogiprayogi. (Foto: Tuty Ocktaviany)
Bicara masalah persaingan, kata Yogi, yang menjadi agen pembayaran bukan hanya BRI, ada yang lain.
“Mandiri ada, BNI ada, tapi tidak semasif BRI. Jadi, kuncinya kreativitas dari agen BRILink juga,” kata Yogi.
(Tuty Ocktaviany)