Raden Mas Tumenggung Aryo Purboningrat dahulu menggelar upacara dengan membunyikan suara bedug (dengan bunyi dug) sebagai puncak awal bulan puasa sebanyak 17 kali dan diikuti dengan suara dentuman meriam (dengan bunyi der) sebanyak 7 kali.
Tradisi ini biasanya dihadiri oleh berbagai lapisan masyarakat yang tinggal di kota Semarang dan dilakukan untuk merayakan keanekaragaman etnis, budaya, kuliner, dan seni yang ada di Semarang.
Biasanya karnaval ini berawal dari halaman Kantor Balai Kota sampai Masjid Agung Semarang tersebut nantinya akan dilanjutkan dengan pembacaan suhuf halaqah dan penabuhan bedug.
(Rizka Diputra)