Tidak hanya itu, Wakil Direktur Eksekutif UNICEF Ted Chaiban mengatakan sanitasi yang buruk telah menyebabkan kasus diare di antara anak-anak kecil meningkat 4.000 persen sejak perang dimulai, dengan 71.000 kasus tercatat di antara anak-anak di bawah usia lima tahun. Kelangkaan air dan makanan ini pun membuat anak menderita kekurangan gizi.
“Sejak kunjungan terakhir saya, situasinya telah berubah dari bencana hingga hampir runtuh. UNICEF telah menggambarkan Jalur Gaza sebagai tempat paling berbahaya di dunia untuk menjadi seorang anak. Kami telah mengatakan ini adalah perang terhadap anak-anak. Tetapi kebenaran ini sepertinya tidak bisa dilepaskan,” kata Chaiban
"Dari hampir 25.000 orang yang dilaporkan telah terbunuh di Jalur Gaza sejak eskalasi permusuhan, hingga 70% dilaporkan sebagai wanita dan anak-anak. Pembunuhan anak-anak harus segera dihentikan,” tuturnya.
Walaupun demikian, Kementerian Luar Negeri Qatar menyampaikan dua pesawat angkatan bersenjata Qatar yang membawa 61 ton bantuan mendarat di el-Arish, Mesir, pada hari Rabu lalu dan akan dipindahkan ke Gaza.
(Leonardus Selwyn)