IMLEK sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Tionghoa. Perayaan Imlek bukan hanya populer di negeri tirai bambu, namun juga sudah eksis di Indonesia.
Perayaan Imlek biasanya dimaknai dengan acara kumpul bersama keluarga menikmati dengan penuh suka cita.
Tradisi ini merupakan bagian dari upaya untuk merayakan pergantian tahun dalam kalender China atau kalender Lunar. Guna memertahankan warisan budaya Tionghoa.
Perayaan Imlek di Indonesia identik dengan sejumlah tradisi unik dan beragam. Beberapa tradisi yang populer ialah angpao, menonton pertunjukan barongsai, serta menyajikan makanan khas seperti kue keranjang dan kue bulan.
Tak ketinggalan, perayaan Imlek juga erat dengan simbol-simbol keberuntungan seperti warna merah, lampion, dan bunga.
(Foto: Reuters)
Warna merah melambangkan kegembiraan dan keberanian, sedangkan lampion dan bunga melambangkan harapan dan keindahan. Mereka juga menghiasi rumah dengan ornamen-ornamen khas Imlek.
Tahun ini Imlek jatuh pada tanggal 10 Februari 2024. Imlek diharapkan membawa kemakmuran dan kebahagiaan.
Sama halnya, dengan pemberian angpao dalam amplop merah. Amplop merah bukan hanya semata-mata warnanya melainkan makna di dalamnya.
Dalam tradisi unik imlek ternyata ada sejumlah larangan, salah satunya tidak boleh keramas.
Pantangan ini juga menjadi salah satu ciri khas dari perayaan Imlek yang kaya akan makna dan simbolisme.
Orang Tionghoa percaya hari pertama Imlek tidak boleh keramas. Ya, hal ini dikarenakan adanya kesamaan huruf awal rambut dengan kemakmuran dalam bahasa aksara China, yaitu 'fa' (rambut) dan 'facai' (kemakmuran).
Rambut juga identik dengan rezeki, oleh karenanya, keramas sama saja melunturkan keberuntungan dan kesejahteraan selama satu tahun ke depan.
Pantangan ini hanya berlaku untuk hari pertama, tetapi juga hari kedua Imlek. Alhasil, orang Tionghoa menyiasati keramas pada malam sebelum perayaan Imlek.
(Foto: MPI)
Pantangan tidak boleh keramas ini merupakan salah satu contoh dari kepercayaan dan tradisi yang masih dilestarikan oleh orang-orang keturunan China hingga saat ini.
Meski, tidak semua orang memercayai atau mengikuti pantangan ini, namun banyak yang menghormati dan menghargai sebagai warisan dari leluhur.
(Rizka Diputra)