BELUM lama ini Kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan perang yang terjadi di Gaza memiliki dampak serius terhadap perawatan kesehatan di daerah tersebut.
Dilansir dari laman Vatican News, Selasa (12/12/2023). Petugas kesehatan harus bertindak dan beroperasi cepat dalam kondisi yang tidak terbayangkan seperti ini. Sehingga pihaknya menyerukan untuk segera dilakukan penghentian pertempuran.
Sementara itu, Israel telah memerintahkan kepada warga sipil untuk meninggalkan pusat Khan Younis, kota utama di Gaza selatan. Hal itu diperintahkan oleh Kepala tentara Israel sebagai upaya meminta pasukannya untuk menekan lebih keras agar mengalahkan Hamas.
Lebih lanjut, di tengah kondisi yang terjadi, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah memperingatkan bahwa setengah dari warga Gaza mengalami kelaparan dan kebanyakan orang di sana tidak dapat makan setiap hari, akibat dari serangan Israel yang sedang berlangsung. Namun, ternyata hal itu tidak hanya dirasakan warga Gaza tetapi juga tenaga medis yang ikut merasakan dampaknya.
“Selama berada di Rumah Sakit Eropa di Gaza, baru sekali saya menerima bantuan makanan, berupa biskuit dan makanan kaleng. Hanya itu yang didapatkan, tetapi anak-anak lebih membutuhkannya,” kata seorang dokter, dikutip dari laman News Arab.
Kejadian itu pun membuat krisis kelaparan dan dehidrasi semakin buruk. Menanggapi kejadian itu, Organisasi Kesehatan Doctors Against Genocide (DAG) mengatakan bantuan memang sulit didapatkan terlebih pada daerah yang berada di perbatasan.