Namun, lambat -laun dirinya berhasil terbujuk untuk bergabung dengan kegiatan yang diadakan Abushawish. Dirinya bercerita segala masalah yang traumatik yang dilalui.
Dia menggambarkan suatu malam ketika mereka tertidur lelap dan, tiba-tiba, sebuah ledakan besar menghancurkan kedamaian. Anas tidak dapat mengingat detail spesifikasinya, kecuali kata-kata terakhir ayahnya, yang memerintahkan mereka untuk mengucapkan “Syahadatain” (pernyataan iman).
“Suara ayah saya perlahan menghilang dan saya mendapati diri saya terkubur di bawah puing-puing dan debu. Saya telepon ayah saya, tapi dia tidak menjawab. Saya tahu dia mungkin dibunuh," tutur Anas.
Saat dia berbicara, Anas memperlihatkan punggungnya, memperlihatkan banyak memar dan luka. Keluarga itu terjebak di bawah reruntuhan selama beberapa waktu sebelum diselamatkan.
“Adikku juga menderita luka punggung yang parah, membuatnya tidak bisa berjalan, dan ibuku masih di rumah sakit setelah kakinya terluka," ucap Anas.
Terkait hal-hal traumatik yang dialami anak-anak, unit kesehatan mental rumah sakit telah membuat komitmen khusus untuk mendukung anak-anak ini. Banyak di antara mereka yang mempunyai kerabat yang terluka, meninggal, menjadi pengungsi dan berlindung di rumah sakit. Semuanya berdampak signifikan terhadap kesejahteraan psikologis mereka.
Abushawish mengatakan anak-anak tersebut juga menderita gejala psikologis dan fisik yang menyedihkan akibat trauma tersebut.
(Leonardus Selwyn)