TUBERKULOSIS atau TBC merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini biasanya menyerang paru-paru, namun tidak jarang pula menyerang organ tubuh lainnya.
TBC masuk dalam deretan penyakit mematikan tertinggi di dunia. Di Indonesia sendiri, kasus TBC cukup memprihatinkan. Dokter spesialis paru, Dr. dr. Erlina Burhan, M.Sc, Sp.P(K) mengungkapkan, Indonesia menjadi negara kedua dengan insiden TBC terbesar di dunia tahun 2021.
"Sebelumnya India pertama, lalu China, dan Indonesia. Tapi ketika pandemi ternyata kasus TBC meningkat 969 ribu hampir 1 juta sehingga membuat kita peringkat kedua dan China turun ketiga," ujar dr Erline dalam pemaparan secara daring, Senin (31/7/2023) kemarin.
Dokter Erlina menjelaskan, alasan angka kasus TBC meningkat drastis di tahun 2021 karena tidak semua kasus terdiagnosa. Dari 80 persen orang yang terkena TBC, tidak semuanya menjalani pengobatan. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang putus obat.
Dokter Erlina menargetkan kasus TBC di Indonesia tahun 2030 menurun hingga 90 persen. Salah satu caranya dengan melakukan inovasi pengobatannya.
"Dari tahun 1943, panduan terapi TBC dilakukan selama 6 bulan. Hal ini harus diubah karena terlalu lama dan banyak efek sampingnya," jelasnya.
Kemudian pada 2022 sudah ada terapi TBC 4 bulan untuk pasien usia 12 tahun ke atas, mereka akan menerima obat Isoniazid, Pirazinamid, Rifapentine dan Moxifloxacin. Sayangnya di Indonesia obat Rifapentine belum ada, padahal bisa membantu eliminasi terapi TBC.
BACA JUGA:
"Pentingnya paduan lebih pendek dalam revolusi eliminasi TBC karena semakin pendek obatnya semakin meningkatkan kepatuhan pasien. Kalau pasien patuh dan sembuh akan mengurangi resistensi obat dan mempercepat pemberantasan TBC," tuturnya.
Dokter Erlina Burhan sekaligus peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) mengungkapkan hasil penelitian untuk terapi TBC jangka pendek yakni Truncate TB atau Two-Month Regimens Using Novel Combinations to Augment Treatment atau TRUNCATE-TB.
BACA JUGA:
TRUNCATE-TB diteliti sejak Maret 2018 dengan melibatkan 1.179 subjek yang telah diskrining, dan 675 diantaranya telah terdaftar uji klinis itu. Penelitian ini melibatkan sejumlah peneliti dari sejumlah universitas di Indonesia serta beberapa universitas internasional seperti National University of Singapore.
"TRUNCATE-TB telah diteliti di 18 lokasi yang tersebar di India, Thailand, Uganda, Filipina, dan Indonesia," tambah Erlina.
Dokter Erlina menyebut TRUNCATE-TB memiliki efektivitas yang sama dengan obat TBC sensitif pada umumnya. Hanya saja melakukan strategi dengan mengubah komposisi obat dengan menggunakan Bedaquiline, Linezolid, Isoniazid, Pirazinamid, dan Etambutol.
"Efikasinya adalah pasien merasa lebih nyaman. Dari segi keamanan angka insidensi kejadian tidak diinginkan tidak banyak, sehingga kesimpulannya adalah ini merupakan strategi baru dan sama efektifnya serta lebih diterima oleh pasien," tutup Erlina.
(Dyah Ratna Meta Novia)