BHUTAN berencana menurunkan biaya per malam yang dikenakan kepada wisatawan yang menginap selama lebih dari empat hari, sebagai upaya untuk meningkatkan jumlah pengunjung yang masih rendah dibandingkan sebelum pandemi COVID-19.
Bhutan membuka kembali perbatasannya bagi para wisatawan pada September 2022, setelah ditutup selama lebih dari dua tahun akibat pandemi COVID-19.
Bhutan kini berupaya meningkatkan biaya untuk pembangunan berkelanjutan menjadi USD200 atau sekitar Rp3 juta per pengunjung per malam, dari tarif sebelumnya sebesar USD65 atau Rp973 ribu yang telah berlaku selama sekitar tiga dekade.
BACA JUGA:
Dikutip dari CNN, Jumat (23/6/2023), otoritas setempat menyatakan bahwa SDF (Sustainable Development Fee) dirancang untuk menarik wisatawan yang mampu secara finansial, sambil mencegah wisatawan berbudget rendah yang dapat merusak lingkungan.
Dana tersebut digunakan untuk menjaga keaslian lanskap dan mengkompensasi jejak karbon yang ditinggalkan oleh para pengunjung.
Bhutan melarang pendakian gunung untuk menjaga keaslian puncak-puncaknya, dan hanya menarik sebagian kecil dari jumlah wisatawan yang mengunjungi Nepal yang berdekatan.
BACA JUGA:
Mulai Juni 2023 hingga akhir 2024, wisatawan yang membayar biaya harian selama empat hari akan diberi kesempatan untuk memperpanjang masa tinggal mereka selama empat hari tambahan.
Sedangkan bagi yang membayar biaya harian selama 12 hari, mereka dapat tinggal di Bhutan selama sebulan penuh.
“Jika lebih banyak turis tinggal lebih lama di Bhutan, pariwisata dapat membantu ekonomi kita tumbuh lebih cepat,” kata Dorji Dhradhul, Direktur Jenderal Departemen Pariwisata Bhutan.