Dari catatannya, Sukarya melihat tak pernah ada hari di mana warungnya sepi, baik wisatawan luar maupun warga lokal terus berdatangan ke kapalnya.
Umumnya tempat tersebut akan padat pengunjung pada musim-musim liburan, yaitu saat hari raya dan akhir tahun, diisi oleh wisatawan mancanegara, domestik, dan warga Bali asli.
Meskipun menawarkan pelayanan terbaik bagi seluruh pelanggan baik wisatawan maupun warga lokal, belakangan pemilik berusia 47 tahun itu lebih memberi perhatian kepada pelanggannya yang merupakan warga lokal Bali.
Mantan pekerja pariwisata itu melihat bahwa pelanggan lokal adalah mereka yang akan selalu datang kapan saja, sehingga kenyamanan bagi mereka akan membuat mereka datang terus menerus.
Salah satu pengunjung juga menyatakan demikian, namanya Alit, masyarakat asli Bali yang bekerja tak terlalu jauh dari kawasan Pulau Serangan.
Ia menceritakan pengalaman makannya di sana, di mana ini kali kesekian ia datang dan membawa rekan-rekan kerjanya makan siang di atas kapal cepat.
Di siang hari yang terik itu, Alit menikmati ikan bakar, kerang bakar, cumi, dan sup ikan. Itu menu andalan versi dia tiap kali datang ke Warung Pondok Bawang.
Menurutnya, selain rasa dan harga yang bisa bersaing, suasana makan yang unik juga menambah minat seseorang untuk berkunjung.
“Unik ini, makan di atas kapal, bisa lihat mangrove lihat laut dan sejuk, bisa berfoto juga makanya sering ajak teman supaya tahu,” tuturnya.
Pulau Serangan sendiri berada di bagian paling Selatan Kota Denpasar, sering disebut-sebut pulau karena dahulu kawasan tersebut terpisah dengan daratan Bali.
Kini kawasan itu semakin terkenal, mulai dari dibangunnya Kawasan Ekonomi Khusus Kura-kura Bali, resmi menjadi desa wisata, hingga wisata kuliner unik makan seafood sambil melihat mangrove.
(Salman Mardira)