Beragam menu makanan ditawarkan, beberapa yang paling direkomendasikan adalah kerang bakar, ikan bakar, sup kepala ikan, dan olahan cumi dengan harga Rp50 ribu sampai Rp100 ribu, seperti warung makan pada umumnya, Sukarya juga menawarkan paket makan bersama dari Rp125 ribu sampai Rp250 ribu.
Sukarya bercerita bahwa warung makannya berkomitmen terhadap pelayanan dan cita rasa makanan lokal ala Pulau Serangan, namun tetap nikmat di lidah internasional.
“Seperti bumbu rajang, rata-rata bule tidak bisa makan, jadi dengan sedikit teknik saya kemas biar bule bisa menikmati sambal matah atau bumbu Bali lainnya,” kata dia.
Dari sana orang-orang semakin mengenal wisata kuliner satu ini, mereka dikenal mampu mengolah hidangan laut dengan baik, mungkin itu terjadi sejak tahun 2020 ketika Sukarya mengerahkan seluruh media sosial yang ia pahami untuk mengenalkan tempat ini.
Meski harganya tak semahal hidangan laut di kawasan wisata seperti Jimbaran, mereka menawarkan rasa yang tak kalah saing, seperti mengolah ikan bakar dan sup ikan bumbu rajang Serangan dan cumi suna cekuh.
Dahulu, kawasan Pulau Serangan terkenal dengan penyu yang dijadikan makanan, sehingga warga Denpasar tak asing lagi dengan bumbu yang digunakan dalam olahan penyu, yang saat ini juga dijadikan bumbu pada hidangan laut di warung Sukarya.
“Kalau bumbu yang kita bikin itu bumbu suna cekuh dan rajang, itu sebenarnya dahulu orang tua saya pakai untuk bumbu penyu, jadi ciri khas aroma orang Bali khususnya Denpasar pasti tahu betul, itu yang saya angkat yang membedakan dengan seafood daerah lain,” jelas dia.
Selama proses pembuatan makanan, akan dikerjakan di rumah Sukarya atau di seberang kapal, di sana mereka membakar dan memasak serta memadukan rempah bumbu basa genep khas Bali ala Pulau Serangan.
Bumbu rajang khas Pulau Serangan akan terasa betul pada sup kepala ikan, sementara bumbu suna cekuh akan sangat terasa pada olahan cumi.
Saat makan, pengunjung akan merasakan sejuk semilir angin laut yang terhantam pepohonan dan mangrove yang hidup di atas air. Panas terik matahari tidak sampai ke dalam kapal karena terhalang atap.
Cukup menunggu sekitar 20 menit, seluruh makanan akan tersaji di atas meja makan, di warung makan atas kapal tersebut juga disediakan menu lain tak kalah menggoda.
Pengunjung bisa mencoba ikan goreng, sayur plecing, dan udang, seluruh bahan hidangan laut dibeli langsung ke nelayan setempat sehingga proses ekonomi berputar di sana, sekaligus kesegaran bahan terjamin.
Saat air sedang pasang, kita bisa merasakan kapal yang bergerak karena ketinggian air dapat mencapai 3 meter, namun dipastikan aman karena kawasan tersebut dipenuhi mangrove sebagai pemecah ombak.
Akan tetapi ketika surut air bisa benar-benar habis, sehingga kapal akan menyentuh dasar laut yaitu lumpur, namun hingga tiga tahun dibuka tidak ada dampak dari kondisi pasang dan surut.