Tujuan Tradisi Bau Nyale
Tradisi Bau Nyale ditujukan sebagai bentuk penghormatan terhadap Putri Mandalika. Pasalnya, masyarakat setempat sangat yakin bahwa nyale yang banyak muncul di pantai merupakan jelmaan dari rambut sang putri.
Untuk itu, setiap tanggal 20 pada bulan 10 Kalender Sasak, masyarakat Lombok pun mengadakan ritual adat. Waktu tersebut dipercaya bertepatan dengan menghilangnya Putri Mandalika.
Runi Fazalani dalam jurnal pendidikan bahasa dan sastra Indonesia berjudul 'Tradisi Bau Nyale Terhadap Nilai Multikultural Pada Suku Sasak' mengatakan, salah satu fungsi dari tradisi Bau Nyale adalah sebagai rekreasi masyarakat.
Disebutkan bahwa, penangkapan Nyale kerap dilakukan selesai menanam padi di sawah. Menangkap Nyale dinilai dapat melepaskan rasa lelah yang selama ini mereka pikul.
(Salman Mardira)