Meriah pasca-pandemi
Adanya pandemi COVID-19 sempat membuat tradisi bulusan tidak bisa digelar secara meriah. Tradisi itu hanya digelar secara sederhana tanpa ada rangkaian kegiatan yang bisa mendatangkan massa.
Setelah dua tahun digelar secara sederhana, kini kembali digelar secara meriah. Bahkan, diklaim jauh lebih meriah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya karena tercatat ada banyak titik lokasi arena hiburan bianglala.
Jumlah gerai pedagang juga cukup banyak karena diperkirakan mencapai ratusan gerai, mengingat pengunjungnya setiap tahun sebelum pandemi cukup banyak.
Tradisi bulusan, selain untuk melestarikan budaya desa setempat, juga menjadi ajang promosi potensi usaha serta untuk menggerakkan roda perekonomian masyarakat setempat.
Harapannya para pelaku usaha di desa setempat semakin berkembang dan maju, karena setiap tahunnya ada ajang untuk mempromosikan produk kepada masyarakat luas.
Pengunjung yang hadir pada acara bulusan tersebut, bukan hanya dari Desa Hadipolo, melainkan dari berbagai daerah di Kudus. Bahkan, ada yang berasal dari luar kota hanya untuk melihat tradisi bulusan tersebut.
Dian, salah satu warga Kabupaten Pati, mengakui tertarik melihat tradisi bulusan karena memang unik dan tidak ada di daerah lain.
Ia mengaku sudah beberapa kali menyaksikan tradisi bulusan, termasuk dari saat kirab hingga prosesi pemberian makan pada bulus.
Melihat animo masyarakat, maka tradisi ini juga bisa menjadi alternatif wisata murah di Kudus setelah Lebaran karena terdapat banyak permainan, mulai dari bianglala, tong setan, hingga ada permainan air yang tentunya menjadi daya tarik bagi semua umur.
Tradisi Syawalan di Kabupaten Kudus memang cukup banyak, namun dari yang ada, hanya Tradisi Bulusan yang unik dan berlangsung sejak lama pada era Sunan Kudus.