Uniknya Pukul Manyapu, Tradisi Ekstrem Habis Lebaran di Maluku

Kiki Oktaliani, Jurnalis
Jum'at 14 April 2023 21:00 WIB
Tradisi pukul menyapu di Leihitu, Maluku Tengah. (Foto: Kemenparekraf)
Share :

MASYARAKAT Maluku punya tradisi unik yang rada ekstrem dalam rangkaian perayaan Hari Raya Idul Fitri. Ya, tradisi pukul menyapu namanya di mana peserta saling pukul dengan sapu lidi. Digelar tiap tahun pada 7 Syawal atau tujuh hari setelah lebaran.

Tradisi pukul menyapu dipercaya sudah ada sejak 1646 Masehi dan masih dilestarikan sampai sekarang. Salah satu di negeri atau Desa Mamala dan Desa Morela, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah.

Pada tiap 7 Syawal tahun Hijriah, masyarakat kedua desa menyelenggarakan hajatan pukul manyapu. Pesertanya kebanyakkan remaja dan pemuda. Mereka dibagi per kelompok 10 orang.

Kemudian akan saling menyabetkan sapu lidi ke badan sang lawan hingga berbekas, bahkan sampai berdarah-darah.

 BACA JUGA:

Meskipun terbilang ekstrem, tradisi pukul manyapu melambangkan persatuan dan perdamaian. Jadi tidak ada kemarahan dan dendam, semua dilakukan dengan penuh keceriaan.

 

Tradisi pukul menyapu di Maluku

Menurut riwayat, tradisi pukul manyapu mulanya diciptakan oleh seorang tokoh Islam Maluku, Imam Tuni.

Awalnya tradisi pukul menyapu digelar sebagai bentuk perayaan keberhasilan atas pembangunan masjid Mamala yang selesai pada 7 Syawal di abad ke-17.

 BACA JUGA:

Versi lain menyebutkan bahwa tradisi ini merupakan bentuk perjuangan Kapitan Tulukabessy bersama dengan pasukannya pada masa penjajahan Portugis dan VOC abad ke-16.

Mereka berjuang untuk mempertahankan benteng Kapaha Dari serbuan penjajah. Namun perlawanan tersebut Berujung kekalahan, sehingga untuk menandai kekalahan tersebut pasukan Tulukabessy mengambil lidi pohon enau dan saling mencambuk hingga berdarah.

 

Prosesi Pukul Manyapu

Dalam pelaksanaan tradisi pukul manyapu, akan dilakukan oleh dua kelompok yang masing-masing regu biasanya terdiri dari 10 orang. Para pemuda ini akan mengenakan celana pendek, ikat kepala berwarna merah yang biasa disebut dengan ‘kain berang’, dengan bertelanjang dada.

 BACA JUGA:

Untuk memudahkan antara teman satu regu, dan lawannya para pemuda ini akan mengenakan celana pendek dengan warna yang berbeda, yaitu merah dan hijau.

Sebelum para pemuda memasuki arena pukul manyapu, mereka akan menjalani sebuah ritual adat di baileo (rumah adat), bersama dengan para tetua adat. Sebagai pertanda dimulainya tradisi atraksi ini ketika suara suling mulai ditiup dan obor Kapitan Telukabessy dinyalakan.

Kemudian kedua kelompok akan saling berhadap-hadapan, dengan setiap anggota regu memegang sapu lidi. Kedua kelompok kemudian akan saling pukul, dengan aturan yang dapat dipukul hanyalah area dada hingga perut.

Uniknya dalam tradisi ini, lawan tidak menghindar justru mereka akan mengangkat tangan setinggi-tingginya.

Perlengkapan Pukul Manyapu

Tradisi pukul manyapu memerlukan banyak sapu lidi dari pohon enau dengan panjang 1,5 meter. Tentunya lidi yang digunakan berbeda dari lidi-lidi pada umumnya. Sapu lidi ini memiliki karakter yang kuat namun, cenderung lentur bahkan dapat menyayat kulit hingga berdarah. 

Setelah memar, hingga berdarah seusai pertandingan para peserta akan mengaplikasi minyak khusus, yang disebut dengan minyak Nyualaing Matetu, yang dikenal mujarab untuk menghilangkan bekas luka kibasan sapu.

Nyualaing Matetu atau getah pohon jarak tak hanya dapat mengobati luka memar, tetapi juga patah tulang. Dalam beberapa minggu, luka-luka tersebut akan sembuh tanpa sedikit pun.

(Salman Mardira)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya