PARA penderita diabetes melitus (DM) saat ingin melakukan puasa, seperti puasa Ramadhan, ternyata harus melakukan konsultasi ke dokter terlebih dahulu, satu bulan jelang puasa.
Hal ini disampaikan dr Dicky Tahapary, Ph.D, Sp.PD KEMD FINASIM, Staf Divisi Metabolik Endokrin Departemen Penyakit Dalam FKUI RSCM kalau ini dilakukan sebagai bentuk kontrol penderita diabetes.
Menurutnya puasa Ramadhan sama halnya dengan puasa intermittent fasting, hanya saja model asupan dirubah. "Model puasa Ramadhan mirip intermiten fasting, hanya digeser saja. Sebulan sebelum puasa ketemu dokter dulu ya," ujar dr Dicky di Press Conference Beat Diabetes.
Saat melakukan puasa Ramadhan, tentu ada sahur. Hal yang harus diperhatikan adalah pola makan. Dia menganjurkan, sebaiknya konsumsi jus buah tanpa gula.
BACA JUGA:
Kemudian, tidak lupa makan serat saat sahur, tujuannya memberikan efek kenyang lama, seperti nasi merah atau singkong. Mendorong penderita diabetes bisa mengontrol keinginan makan berlebihan.
BACA JUGA:
"Prinsipnya sama (dengan puasa lain), yang penting itu cairan dulu. Misal jus buah tanpa gula, kalau sahur makanan serat tinggi, tapi efek kenyang lama. Karbohidrat ada tapi serat tinggi, misal nasi merah atau singkong. Pada umumnya pas sahur asupannya kecil. Kalau buka lebih banyak," jelas dr Dicky.