Petrus menyebut banyak wisatawan datang dan tertarik dengan sejarah tempat wudhu itu dan bagaimana masyarakat desa yang beragama Katolik mau menjaga kelestarian tempat itu.
Dia menambahkan, banyak wisatawan beragama Islam yang mengunjungi tempat itu dan mengambil air wudhu. "Mereka datang biasanya pas hari raya, lalu mereka pakai wudhu," katanya.
Meski mayoritas beragama Katolik, Petrus menegaskan bahwa masyarakat dan pemerintah desa selalu menjaga keaslian tempat itu dan merawat dengan baik.
Tempat itu, katanya merupakan sebuah kekayaan religius yang dijadikan simbol toleransi antar umat beragama.
"Kami melihat ini sebagai sejarah, sehingga kami coba membangkitkan itu ke generasi berikutnya supaya sejarah tidak punah," katanya menandaskan.