MASYARAKAT Kampung Pajoreja, Desa Ululoga, Kecamatan Mauponggo, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang mayoritas beragama Katolik terus menjaga toleransi agama dengan melestarikan tempat Wudhu yang merupakan peninggalan leluhur menjadi wisata religi.
"Tempat wudhu itu peninggalan leluhur kami dari tahun 1.700-an (3 abad). Kami terus jaga sampai hari ini dan jadi wisata religi," kata Kepala Desa Ululoga, Petrus Leko seperti dikutip dari ANTARA.
Tempat wudhu itu terletak di bawah sebuah pohon besar yang disebut warga sebagai Ae Wudhu. Di dekat air, ada batu persegi yang dinamakan Watu Noa atau tempat sholat.
Ae Wudhu dan Watu Noa ini merupakan peninggalan nenek moyang laki-laki Kampung Pajoreja yang mengambil isteri seorang perempuan muslim dari Kampung Tonggo, Kecamatan Nangaroro. Ae Wudhu dibuat oleh sang lelaki untuk isterinya agar memiliki tempat wudhu dan sholat.
"Ia (perempuan) satu-satunya yang beragama Islam saat itu sehingga ia meminta suaminya membuat tempat wudhu dan sholat," tutur Petrus.
Tempat wudhu dan sholat peninggalan nenek moyang itu tidak pernah dipugar, melainkan dibiarkan alami dengan terus dibersihkan oleh pemuda desa yang tergabung dalam Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).
Kini pemerintah desa menjadikan tempat itu sebagai salah satu destinasi wisata desa khususnya wisata religi di bawah kaki Gunung Ebulobo.