Dikatakannya, melalui Perpres Nomor 80 tahun 2019 yang memuat salah satunya yakni wilayah Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).
"Maka, kita tentunya harus segera merespons karena ketika ada ruang-ruang yang dapat dimaksimalkan, dan harus dijalankan," kata dia.
Ogoh-Ogoh (Foto: Ist)
Ia berharap, keberadaan Tengger Cultural Festival dan Tengger Cultural Center dapat memberikan alternatif wisata baru kepada wilayah Gunung Bromo yang kapasitasnya sudah sangat terbatas.
"Tantangan yang dihadapi di Bromo adalah keterbatasan kapasitas, semua selalu mencari sunrise (matahari terbit) di penanjakan dan lautan pasir padahal kapasitasnya terbatas. Ini harus dikembangkan untuk menambah alternatif, kami sepakat dengan apa yang disampaikan Bapak Irawan selaku Ketua PHDI Kabupaten Pasuruan bagaimana caranya kalau orang ke Bromo ingat Tosari," tutur Emil.
(Rizka Diputra)