Yang lebih menyedihkannya lagi, wanita 50 tahun itu, selalu menolak untuk diberi pengobatan. Ia lebih memilih percaya bahwa seseorang telah memantrainya dan memberikan ilmu sihir hingga dirinya jatuh sakit.
Dikutip dari Metro, Dr Waseem Sous, ahli penyakit dalam di SUNY Upstate Medical University menyebut, pasien menolak tindakan medis karena takut operasi dan memilih untuk pemantauan gejala.
Fakta di balik menetapnya janin dalam perut wanita Kongo itu juga tak kalah menyedihkan. Wanita itu diketahui selalu hidup berpindah-pindah. Dari Kongo ke Burundi, lalu ke Tanzania, dan akhirnya ke Amerika.
Sebelumnya di Tanzania, ia memiliki 8 orang anak, tiga di antaranya meninggal tak lama setelah dilahirkan. Di kehamilannya yang ke-9, ternyata janinnya meninggal dalam perut.
Petugas medis menyarankan untuk mencoba mengeluarkannya secara alami di rumah. Jika tak berhasil, bisa kembali lagi ke rumah sakit dalam dua minggu.
Karena percobaannya mengeluarkan janin tak berhasil, ia akhirnya kembali ke rumah sakit tersebut. Namun yang wanita itu dapat adalah cercaan dari orang-orang yang menuduhnya membunuh bayi tersebut.
Ini membuatnya yakin untuk tak kembali ke klinik dan terus membawa jasad bayinya selama 9 tahun. Hingga wanita itu meninggal dengan janin di perutnya yang mengantarkannya pada kematian.
(Vivin Lizetha)