Berbagai latar belakang, jadi alasan di balik keputusan untuk tidak ingin punya anak. Tak ditampik, alasan ekonomi atau finansial jadi yang utama. Dengan biaya hidup yang semakain tinggi, banyak orang akhirnya merasa tidak mampu untuk mengurus anak dengan baik, hingga timbul kekhawatiran akan memiliki anak yang tidak sesuai harapan.
"Suatu sikap itu terbentuk dari berbagai kejadian atau proses kehidupan sebelumnya. Nah, mungkin orang-orang yang memilih ogah punya anak, punya dasar pemikiran sendiri karena pengalaman sebelumnya," lanjut Endang.
Endang menegaskan, pengalaman tersebut bukan berarti mutlak sesuatu yang dialami atau dijalani langsung sendiri. Tapi bisa dari apa yang dilihat atau yang didengar. Sehingga lahir lah prinsip tak ingin memiliki anak.
Umumnya, pada kebanyakan orang yang ogah punya anak, dinilai terlalu mencemaskan masa depan yang belum tentu terjadi. Sikap ini, yang disebut sebagai sikap yang kurang tepat.
"Prepare untuk masa depan itu perlu. Tapi, kalau sampai khawatir berlebih atau takut berlebih pada masa depan yang belum tahu seperti apa, ya, itu kurang tepat. Jangan takut berlebihan, kalau takut punya anak karena tak bisa menjamin masa depan yang baik, maka persiapan perlu dimatangkan saat ini, bukan kemudian tidak mau punya anak," jelasnya.