Perekaman irama jantung secara kontinyu selama 24 jam berhasil mendeteksi adanya aritmia yang berupa denyut ekstra sebanyak hampir 25% dari keseluruhan denyut jantungnya.
Dokter Sunu melanjutkan, obat-obat sudah dikonsumsi, bahkan tindakan kateter ablasi sudah diupayakan di kota lain. Namun, keluhan belum membaik. Berdasar laporan pasien, kegiatan dan pekerjaan sehari-hari sangat terganggu dengan penyakitnya ini.
"Setelah melalui pemeriksaan menyeluruh, akhirnya kami memutuskan untuk melakukan tindakan kateter ablasi 3 dimensi untuk hasil yang lebih presisi dan maksimal," ungkapnya.
Kateter ablasi adalah tindakan intervensi non-bedah dengan menggunakan kateter yang digunakan untuk memandu dokter memetakan, melokalisir, dan menghancurkan jaringan penyebab impuls listrik tidak normal pada jantung.
"Pada pasien tersebut, setelah dilakukan ablasi konvensional, gangguan irama jantungnya belum membaik. Namun, dengan teknologi 3D, Alhamdulillah gangguan aritmia-nya berhasil disembuhkan, sehingga kualitas hidup pasien jauh lebih nyaman dan beliau tidak perlu minum obat lagi," papar dr Sunu.
(Dyah Ratna Meta Novia)