Karena itu, dibutuhkan skill dan komunikasi yang persuasif bagi seorang AE agar mampu mendongkrak penjualan, maupun image produk klien tersebut.
“Jadi menurut aku kita itu sebagai AE harus punya skill komunikasi persuasi yang sangat baik. Jadi itu tanggung jawabnya, dan harus memberikan citra yang baik bagi perusahaan dan itu in line dengan money profit pastinya,” ungkapnya.
Meski begitu, Ajeng tak memungkiri, profesi tersebut menuntutnya untuk bisa seprofesional mungkin untuk menghadapi berbagai macam karakter klien. Ia lantas mengungkapkan salah satu tips saat menghadapi klien yang cukup ‘picky’.
“Biasanya aku redain emosi dulu sih, daripada aku salah ngomong atau segala macem, karena apalagi kalau kita ngadepin klien yang sory boomer itu parah kan dengan cara berpikir kita sebagai gen Z atau millenial misal susah dibilangin, sorry to say gaptek mungkin itu tuh sangat banyak,” tuturnya.
“Jadi ya aku pribadi sih biasanya banyak ngomong ke atasan aku gimana nih cara ngadepinnya. Dan biasanya aku yaudah nggak mau banyak berdebat, biasanya aku nggak ngeiyain banget, karena kalau misalnya aku ngeiyain jadi janji palsu jadinya, jadi yaudah biasanya aku nenangin dulu aja, terus aku list di note aku harus ngomong apa, daripada salah ngomong,” lanjutnya.*
(Helmi Ade Saputra)