DEFISIT tenaga dokter spesialis jadi salah satu pekerjaan rumah terbesar sistem kesehatan masyarakat di Tanah Air. Salah satu fakta di lapangan, kurangnya jumlah dokter ahli atau spesialis di tiap Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD).
Saat kunjungan kerja ke RSUD Dr. Moewardi, Solo, akhir pekan ini, Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin mengungkap ia tengah berupaya untuk bisa memenuhi kebutuhan dokter spesialis di tiap RSUD.
“Jadi rumah sakit umum daerah pasti akan saya isi, fasilitasnya diisi, dan Sumber Daya Manusia(SDM) nya dikasih beasiswa, beasiswanya bisa fellowship,” ujar Menkes Budi.
Langkah-langkah tersebut dilakukan untuk mengejar kekurangan dokter spesialis dan menambah akses masyarakat terhadap layanan kesehatan spesialis. Memenuhi jumlah kebutuhan dokter spesialis dan fasilitas penundi daerah-daerah ini, memang harus dilakukan sebagai wujud transformasi sistem kesehatan besar-besaran di Indonesia.
Dari catatan data Kementerian Kesehatan, seperti dikutip dari laman resmi Sehat Negeriku Kemenkes, Minggu (11/12/2022) untuk di RSUD sangat dibutuhkan spesialis penyakit yang menjadi penyebab kematian terbanyak di Indonesia, yakni spesialis onkologi untuk penyakit kanker, spesialis jantung dan pembuluh darah, spesialis neurologi untuk penyakit stroke, serta spesialis nefrologi untuk penyakit ginjal.
Pemenuhan dokter spesialis di RSUD merupakan bagian dari transformasi layanan rujukan. Transformasi besar-besaran sistem kesehatan masyarakat Indonesia, saat ini dimulai Kemenkes dengan tiga penyakit penyebab kematian paling tinggi di Indonesia yaitu penyakit jantung, stroke, dan kanker.
Contoh untuk penyakit jantung, Menkes menyebut kurang lebih dua tahun lagi semua Provinsi sudah bisa melakukan tindak operasi pasang ring jantung.
Mengingat kondisi saat ini, dari 34 Provinsi yang bisa melakukan operasi pasang ring cuma baru 28 Provinsi dan yang bisa melakukan operasi bedah jantung terbuka, hanya rumah sakit di 22 Provinsi yang mampu.
“Kami ada target bahwa rumah sakit di seluruh Provinsi pada 2024, harus bisa melayani penyakit jantung, stroke, dan kanker. Akses layanan dan standar layanan tertentu untuk jantung, stroke, dan kanker harus rata tersedia di seluruh Provinsi,” tandas Menkes Budi.
BACA JUGA:3.825 Puskesmas Indonesia Tak Punya Dokter Gigi, Menkes: Lulusan FKG Jangan Cuma ke Kota Besar!
BACA JUGA:Digugat Orang Tua Pasien Ganggual Ginjal Akut, Begini Respon Kemenkes
(Rizky Pradita Ananda)