Proses Panjang IDAI Mengulik Akar Penyebab Gangguan Ginjal Akut

Kiki Oktaliani, Jurnalis
Rabu 02 November 2022 14:40 WIB
gangguan ginjal akut (Foto: Freepik)
Share :

GANGGUAN ginjal akut masih terus menghantui masyarakat Indonesia, terutama para orang tua. Dari catatan data terkini, angka kasusnya kini sudah menembus hingga 325 kasus dan setidaknya sudah 159 pasien meninggal dunia.

Upaya menemukan penyebab pasti munculnya gangguan ginjal akut pada anak ini terus dilakukan oleh banyak pihak, termasuk para dokter anak.

Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia, dr. Piprim Basarah Yanuarso, SpA(K) mengungkap IDAI melakukan berbagai upaya untuk mengetahui apa penyebab dari gangguan ginjal akut (GGA). Awalnya, GGA muncul diduga sebagai Syok Hipovolemik atau dehidrasi berat, Sindrom Hemolitik Uremik pasca diare, Glomerulonefritis akut, namun hasilnya tidak ditemukan.

Para dokter anak, bahkan sempat menduga gagal ginjal akut ini sebagai dampak dari Long Covid, (MISC Pasca Covid) dan dilakukan terapi sebagai MISC. Namun, meski sudah dilakukan terapi tapi kondisi pasien tetap tak tidak membaik.

Dokter Piprim menyatakan cukup frustasi kala itu karena melihat kondisi pasien tak kunjung membaik dan ditambah angka kematian yang terus bertambah.

“Ini kita stres sendiri ya, anak-anak itu masuk rumah sakit, meninggal dan meninggal,” ujar dr. Piprim, saat Raker Komisi IX dengan Menteri Kesehatan RI dan RDP dengan BPOM, dikutip dari kanal Youtube DPR RI, Selasa (2/11/2022).

Setelah melalui proses panjang diskusi dengan dokter di Gambia, dengan profil pasien di Gambia serupa dengan yang ada di Indonesia. Pada kasusnya di Gambia setelah penarikan obat, angka kejadian menurun drastis lalu kemudian dilakukan pemeriksaan ke arah intoksikasi.

Pada evaluasi IDAI dari 18 hingga 20 Oktober 2022 ditemukan banyak kadar Etilen Glikol (EG) di dalam darah pasien gangguan ginjal akut. Meski pasien sudah cuci darah, namun kadar dari EG masih cukup tinggi.

“Rupanya memang banyak kadar Etilen Glikol (EG) yang melebihi batas di dalam darah para pasien kami, walau sudah dilakukan cuci darah,” terang dr. Piprim

“Kita bisa bayangkan, itu pasien sudah dicuci darah hasil EGnya masih tinggi. Ya artinya tinggi sekali sebelumnya,” imbuhnya.

 

(Foto: tangkapan layar Youtube DPR RI)

Setelah mengumpulkan data dan informasi dari seluruh anggota IDAI di Indonesia kemudian bergerak mengumpulkan data dan informasi yang ada sebagai rekapan data awal dari kasus gangguan ginjal akut yang terjadi di beberapa provinsi di Indonesia.

Sampai akhirnya tiba pada putusan, BPOM RI telah menarik obat sirop yang diduga terdapat cemaran cairan EG dan DEG yang digunakan lebih dari ambang batas dan larangan konsumsi obat sirop oleh Kementerian Kesehatan.

Sebagai infoirmasi, BPOM telah menyatakan dua industri farmasi yaitu PT Yarindo Farmatama, dan PT Universal Pharmaceutical Industries telah perubahan bahan baku obat yang tidak sesuai standar ketentuan BPOM. Izin produksi obat dari dua industri farmasi tersebut, saat ini juga sudah dicabut oleh BPOM.

 BACA JUGA:BPOM: Kandungan Etilen Glikol di Obat Sirup PT Yarindo dan PT Universal Sangat Tinggi!

BACA JUGA:Terbaru! Ini 7 Daftar Obat Sirup Berbahaya Menurut BPOM

(Rizky Pradita Ananda)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya