Naik Pesawat Bareng Pasangan, Perawat Ini Kehilangan Tas Koper Senilai Rp46 Juta

Dita Mawanda, Jurnalis
Sabtu 22 Oktober 2022 01:17 WIB
Georgina Aitken (Foto: traveller.com.au)
Share :

SEORANG perawat bernama Georgina Aitken mengaku kehilangan tas kopernya dalam penerbangan dengan pesawat Jetstar. Tas dan isinya yang diperkirakan senilai Rp46 juta itu hilang saat wanita itu terbang dari Auckland, Selandia Baru ke Rarotonga di Kepulauan Cook.

Georgina Aitken berasal dari Invercargill, Selandia Baru. Dia terbang bersama pasangannya ke Rarotonga pada 17 September lalu untuk mengunjungi orangtuanya. Tapi, setelah mendarat, Aitken malah kehilangan kopernya.

Dia sudah meminta bantuan staf bandara dan pihak maskapai. Namun, lebih 30 hari menunggu, nasib kopernya yang senilai USD3.000 atau sekira Rp46 juta tak jelas. 

“Tas saya tidak pernah tiba di salah satu pesawat. Saya menelepon nomor 0800 (Jetsar) beberapa kali selama liburan, mereka menyatakan hal yang sama ‘masih dalam pelacakan’,” kata Aitken seperti dilansir dari Traveller, Jumat (21/10/2022).

Aitken mulai kesal, khawatir, dan frustasi karena tidak ada yang bisa membantunya. Ia mulai mencari sendiri kopernya yang hilang.

Akibat kehilangan tasnya, ia harus membeli pakaian baru, pakaian dalam, tas dan perlengkapan mandi selama berada di Rarotonga, meskipun beberapa barang bernilai sentimental dalam tasnya tidak dapat tergantikan.

Sampai kembalinya ke rumah, Aitken mengatakan, jika ia telah menelepon pusat kontak Jetsar, Bandara Auckland, dan petugas bagasi beberapa kali, dan tidak ada yang bisa memberi tahu informasi terbaru keberadaan tasnya.

“Mereka tidak bisa memberi tahu saya apa-apa, dan menyatakan bahwa mereka masih terus melacak tas itu,” ungkap perawat wanita tersebut.

Petugas bagasi memberi tahu kepada Aitken, jika mereka membutuhkan waktu sektiar lima hingga 15 hari kerja untuk menemukan tas yang hilang. Namun, telah lebih dari 30 hari kerja, tak ada informasi terbaru mengenai tasnya hingga dia menjadi hilang kepercayaan.

Aitken khawatir tasnya bukan hilang namun, dicuri oleh orang yang tak bertanggung jawab. Dirinya pun mengungkapkan rasa kecewa, frustasi, dan sedih dengan seluruh pengalaman dengan Jetsar.

“Saya merasa sangat menghabiskan banyak waktu dengan kesal, khawatir, dan frustasi selama liburan saya, dan dalam sambungan telepon, saya telah diputus dua kali,” ungkapnya.

Tidak mengerti dengan tindakan Jetsar atas keluhan yang dialami Aitken tanpa pelayanan yang memuaskan.

Permasalahan tersebut, lantas membuat seorang juru bicara Jetsar angkat suara jika maskapai dengan tulus meminta maaf atas ketidaknyamanan yang ditimbukan. Pihak Jetsar sedang melakukan segala yang dapat dilakukan untuk menemukan tas yang hilang, dan akan terus memberi tahu Aitken tentang informasi terbaru tasnya.

Diketahui, kehilangan barang oleh maskapai penerbangan telah meningkat drastis tahun 2022, karena para pelancong naik pesawat dalam jumlah yang jauh lebih besar daripada yang diprediksi oleh sektor penerbangan dengan staf pendek pada hari-hari awal pandemi.

Juli 2022, lebih dari enam tas per 100 buah bagasi dimuat ke pesawat setidaknya hilang sementara oleh maskapai penerbangan AS, meningkat sekitar 97 persen dari jumlah pada April 2021.

Kesalahan penanganan bagasi di seluruh dunia juga meningkat, naik 24 persen tahun 2021 dengan 8,7 koper per 1000 internasional penumpang akhir tidak tiba tepat waktu. Kejadian ini sangat buruk di Inggris, Eropa, AS, dan Kanada selama musim panas belahan bumi utara, serta Islandia Baru, Australia, dan negara lainnya ikut terpengaruh.’

Namun, menurut seorang juru bicara Bandara Auckland jika situasi di Selandia Baru tampaknya membaik, karena penumpang meletakkan barang berharga di tas jinjing mereka daripada menempatkannya di bagasi check-in.

Maskapai penerbangan bertanggung jawab untuk menjaga tas penumpang dan memastikan mereka mencapai tujuan yang tepat, bukan bandara yang bertanggung jawab terkait persoalan ini. Sehingga, ketika tas hilang, maka maskapai penerbagnan bekerja dengan penanganan darat untuk menemukan dan mengembalikan ke penumpang.

Maskapai penerbangan, penanganan darat, dan bandara berjuang untuk memenuhi permintaan penerbangan akibat memecat staf di awal pandemi. Sedangkan, telah banyak rekrutmen mengemudi, pasar tenaga kerja yang ketat tidak membuatnya mudah, melatih staf baru juga membuutuhkan waktu.

(Salman Mardira)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya