"Perceraian mungkin merupakan strategi yang berhasil, bagi perempuan korban kekerasan untuk melarikan diri dari rumah tangga yang sudah rusak akibat KDRT," kata Surianti.
Sukeri menemukan, faktanya di lapangan bahwa tak sedikit memang perempuan korban KDRT memilih bertahan dalam kesedihan. Para korban tidak bisa 'kabur' dari situasi traumatis itu, karena beberapa faktor, misalnya karena faktor kemiskinan dan ketidaksetaraan gender.
Tapi, wanita yang menjadi korban namun sudah terbebas dari KDRT mengaku bahwa kekerasan dalam rumah tangga adalah batas toleransi tertinggi dari semua kesalahan yang mungkin saja terjadi dalam menjalin rumah tangga.
“Dia menamparku, menendangku. Perceraian adalah satu-satunya solusi, karena saya tidak ingin tinggal lagi bersamanya,” aku salah seorang koresponden.
"Saya mengajukan gugatan cerai setelah dia memukuli saya dengan kursi. Selama ini saya menoleransi pelecehan verbalnya, tetap setelah dia memukul saya, saya tidak tahan lagi,” tambah koresponden berikutnya,