MEMBERSARKAN anak dengan kondisi keterbelakangan mental memang tidak mudah. Salah satu penyakit keterbelakangan mental yakni autisme. Lantas, bagaimana membesarkan anak yang memiliki autisme? Berikut cerita perjuangan seorang ibu tunggal membesarkan anak dengan autisme.
Namanya Sylvia Adriana (35), tak butuh banyak alasan untuk bertahan demi anak-anaknya. Dia dikaruniai dua anak istimewa. Pertama adalah Marvin (17) yang tumbuh dengan kondisi autisme. Lalu yang kedua seorang perempuan (12) dengan talasemia.
"Untuk seorang ibu enggak perlu syarat banyak-banyak untuk memperjuangkan anaknya," ucap Sylvia dengan nada bergetar seperti dikutip dari KlikDokter.
Sylvia pertama kali mengetahui putranya mengidap autisme saat Marvin berusia empat tahun. Dia sebenarnya sudah curgia dengan perbedaan sikap Marvin dengan anak seusianya.
Namun, hal itu baru terkonfirmasi ketika anaknya akan masuk sekolah. Guru-guru punya kecurigaan yang sama. Setelah bertanya ke sana-sini, barulah Sylvia mendapat diagnosis pasti: Marvin punya kondisi autisme. "Awalnya struggle banget. Syok awalnya. karena saya melahirkan Marvin itu di usia yang sangat sangat muda," kenang Sylvia.
Butuh waktu baginya menerima kenyataan tersebut. Sylvia menuturkan, ia kerap menangis tiap kali melihat anaknya. Dia pun pernah berada di fase masa bodoh ketika anaknya melakukan apapun. Akan tetapi, naluri sebagai ibu tidak bisa berbohong. Perlahan Sylvia berusaha keras untuk mengasuh anaknya.
Marvin punya kondisi autisme berat. Ia kesulitan mempelajari hal baru. Ada satu peristiwa yang tidak akan pernah dilupakan Sylvia saat Marvin berusia 4,5 tahun. Anak dengan autisme tidak memiliki kemampuan mengekspresikan apa yang dirasakannya dalam berkomunikasi.
Suatu malam, Sylvia hanya berdua bersama Marvin di apartemennya. TIba-tiba putranya itu menjerit-jerit tak karuan. Dia membanting barang-barang di sekitarnya. Marvin marah hingga membenturkan kepala ke tembok. Sylvia tahu putranya lapar dan ingin makan. Dia juga tahu Marvin kesulitan mengekspresikan kemauannya.
Sylvia berusaha mencari cara agar anaknya bicara. Sylvia memegang tangan Marvin, "Marvin bilang, ‘mama, aku mau makan’." Marvin tidak merespons dan hanya menggelengkan kepala. Sylvia stres berat menghadapinya. Hal itu berlangsung sepanjang malam.
Sylvia ingat, sekitar setengah 3 pagi, tiba tiba Marvin menghampirinya. Dia memegang tangan ibunya. "Mama mau makan," kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut kecilnya. Menurut Sylvia, "Itu seumur hidup dia pertama kali ngomong."