"Saya rasa, lakon ini tidak hanya semata-mata akan bicara tentang perempuan, namun sebuah situasi metafora yang menyadarkan kita akan fondasi negara kita yang disusun dari kontribusi semua pihak, golongan, dan gender," ucap Butet.
Bagi Direktur Artistik Indonesia Kita, Agus Noor, jalinan kisah ini menjadi sangat menarik dan kontekstual di tengah arus pemberitaan hangat yang beredar di media massa akan persiapan pencarian sosok pemimpin di masa depan, menjelang pesta politik 2024.
“Pertanyaan akan sosok pemimpin mau tidak mau akan juga dikaitkan dengan gender. Lewat lakon ini, kita justru ingin mengajak penonton untuk melihat bahwa gender bukanlah hal yang harus menjadi faktor dalam menilai kemampuan seseorang, apalagi dalam memimpin. Dan itu akan kami perlihatkan dalam bentuk seni tradisi bernama ludruk yang sedari dulu tak pernah membatasi para seniman yang tampil dalam pengkotak-kotakan gender. Justru konsep pemanggungan ludruk ini akan menantang seni peran para seniman,” ujar Agus Noor yang menulis dan menyutradarai pertunjukan ini.
Pementasan Indonesia Kita ini juga didukung oleh Pertamina, salah satu Badan Usaha Milik Negara Indonesia. Menteri Badan Usaha Milik Negara Indonesia, Erick Thohir yang hadir dalam pentas pertama Indonesia Kita setelah pandemi. Beliau mengungkapkan bahwa “BUMN mendukung penuh para seniman dan seni pertunjukan bangkit kembali”. Dukungan inilah yang terus menyemangati panggung Indonesia Kita untuk menjaga dan melestarikan budaya yang kita miliki.
(Fitria Dwi Astuti )